Wednesday, January 20, 2010

Akhir Puasa 8 Tahun Arema!

Sore ini, hampir seluruh kehidupan Malang raya seolah dibangkitkan kembali setelah Arema Indonesia, tim pujaan dari Aremania berhasil memenangkan pertandingan derby Jatim Jilid IV ISL 2009/2010 atas Persik Kediri dengan skor 1-0 yang dimainkan di Stadion Surajaya Lamongan. Hasil ini adalah hal yang patut disyukuri oleh 12.000 Aremania - Aremanita yang memadati sebagian besar Stadion. Apalagi pada laga ini Arema Indonesia bertindak sebagai tim tamu dan seolah-olah sebagai pembalasan atas kekalahan Arema Indonesia dari tim yang sama di tahun lalu bertempat di Stadion Kanjuruhan Malang.

Banyak rekan Aremania yang bergantung akan Aremania ini. Maklum sekian tahun Arema Indonesia berjumpa dengan Persik Kediri selalu diliputi kekalahan. Total ada 5 kekalahan Arema Indonesia yang diderita atas musuh bebuyutannya ini sejak pertemuan pertama yang menghasilkan kerusuhan di Stadion Brawijaya Kediri di tahun 2003 lalu.

Banyak yang bertanya-tanya mengenai pertemuan Arema Indonesia dengan Persik Kediri yang "selalu" diliputi kekalahan. Hal ini memang bisa terjadi dengan menganalogikan bahwa bola itu bundar, namun tetap saja ada penjelasan teknis yang mengirinya. Seperti misalnya kekalahan pertama yang diderita Arema atas Persik di Stadion Brawijaya Kediri yang berbuah kerusuhan. Persik Kediri ketika itu memiliki belasan komponen yang musim sebelumnya bergabung dengan Arema. Seperti Pemain muda Johan Prasetyo, Suswanto, Khusnul Yuli, dan pemain senior macam Harianto, Wawan Widiantoro, Pemain asing yang pernah memperkuat Arema di tahun 2001 Bamidelle Frank BobManuel(di akhir musim bersaing dengan Christian Gonzales dan Oscar Aravena untuk menjadi top scorer), dan gabungan staf pelatih seperti Jaya Hartono(pernah menjadi asisten pelatih Arema), Micky Tata dan Sukriyan(legenda Arema) dan manager Iwan Budianto yang 2 tahun berturut-turut menjadi manager Arema di Liga Indonesia 2000-2002. Praktis, pemain yang masih "lulus seleksi" alam tinggal Nanang Supriadi, Joko Susilo, Aji Santoso, Setyo Budiarto, Hermawan(main di Arema Indonesia sekarang) , dengan tambahan pemain senior seperti Kurnia Sandy, Listyanto Raharjo(Putaran Kedua digantikan oleh Anshar Abdullah - mantan pemain PSM) dan barisan pemain asing seperti Tibidy Alexis, Christian Cespedes, Rodrigo Araya, Simamo Armand basile(tiga nama terakhir bergabung pada window transfer kedua LI 2003).

Pertemuan pertama di Stadion Brawijaya tertanggal 27 Februari 2003 lalu bisa dibilang Persik siap 100% dalam menghadapi Arema yang didukung puluhan ribu penontonnya. Dengan materi pemain yang kebanyakan hasil bedol desa dari Bumi Arema, masing-masing pemain seperti sudah memahami karakter sepakbola Malangan itu sendiri. Skor 1-0 sebelum kerusuhan dengan didukung keberpihakan wasit pada tim tuan rumah seolah menjadi pelengkap pesta kemenangan anak asuh Jaya Hartono ketika itu. Di akhir tahun 2003, Persik juga mengungguli pemain Arema yang ketika itu sudah dilatih Benny Dollo dalam perebutan tempat ketiga Piala Gubernur Jatim. Skor akhir adalah 4-3 yang didapat dari adu tendangan penalti setelah 90 menit waktu normal dan 30 menit babak perpanjangan waktu didapat hasil imbang 0-0. Harap diingat ketika itu sebagian besar pemain Arema yang bertanding melawan Persik tersebut masih didera kelelahan luar biasa setelah melakukan Training Center dan 3 ujicoba di Pulau Dewata. Skuad Arema ketika itu masih diperkuat I Putu Gede, Joao Carlos, Erol FX Iba, Sonny Kurniawan, Sunar Sulaiman, Aris Budi Prasetyo, dll dan ketika itu Arema akan menghadapi pertandingan Divisi I Liga Pertamina 2004.

Setelah laga di Piala Gubernur 2003 tersebut, skuad Arema Malang baru bertemu lagi dengan Persik Kediri 2 kali di Babak 8 Besar Liga Indonesia 2005 di Jayapura dan Liga Indonesia 2006 di Solo yang kesemuanya di menangkan oleh Persik Kediri. Bahkan 3 pertemuan berturut-turut berikutnya(1 di Piala Gubernur 2008, dan dua ISL 2009) dimenangkan Persik Kediri dengan 2 laga diantaranya dimainkan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dihadapan pendukung kedua tim.

Kembali pada kemenangan yang didapat Arema Indonesia atas Persik hari ini, banyak yang menganggap bahwa ini adalah kemenangan pertama Arema Indonesia. Namun, anggapan ini bisa jadi benar bila melongok pada pertemuan Arema dan Persik Kediri hanya di pentas Liga Indonesia saja dimana Persik Kediri mencatatkan 6 kemenangan dan 2 kali seri atas Arema sebelum pertandingan sore tadi. Tapi sejarah mencatat Arema Malang pernah menang atas Persik Kediri dengan skor telak 3-0, tepatnya pada 7 Januari 2002 di Stadion Gajayana Malang. Inilah pertemuan pertama kedua tim dan ketika itu Arema Malang dilatih oleh Daniel Rukito, sedangkan Persik Kediri oleh Jaya Hartono. Arema Malang ketika itu bersiap untuk mengikuti debutnya pada Divisi Utama Liga Indonesia 2002 menghadapi Persita Tangerang di Stadion Benteng seminggu kemudian, sedangkan Persik Kediri melakukan ujicoba tersebut sebagai persiapan menjalani Divisi I Liga Indonesia 2002(ketika itu Persik Kediri berstatus sebagai Juara Divisi II Liga Indonesia 2001).

Pertandingan tersebut dilakukan sedikitnya dihadapan 17.000 Aremania yang memadati Stadion Gajayana di sore hari itu(berdasarkan kalkulasi Harian Jawa Pos dan Surya). Namun, hanya ada 8.000 tiket yang dijual untuk pertandingan sore itu(rinciannya 2.000 tiket VIP dan 6.000 tiket ekonomi). Saya sendiri menonton pertandingan tersebut di Tribun Ekonomi yang dijual seharga 5.000 rupiah. Tiket yang saya beli berupa tiket sobekan yang dijual Panpel lewat Loket sebelah Selatan VIP namun ditandai dengan tambahan stempel di belakangnya. Panpel ketika itu tidak siap dengan animo membeludaknya penonton, dari kapasitas 2000 penonton di tribun VIP dijubeli oleh sekitar 3.000 Aremania, seribu diantaranya naik ke tribun dengan memanfaatkan memanjat dinding lewat batang bambu spanduk, tali yang didapat dari melilitkan spanduk, menggabungkan syal dan lainnya. Sementara lebih dari 8.000 Aremania lainnya masuk dengan cara menerombol, memanjat dinding(dinding Stadion Gajayana ketika itu tingginya masih sekitar 6 meter untuk 10 rows), atau membeli tiket secara resmi dari Panpel meski berupa sobekan kecil berstempel seperti saya.

Kami berlima masuk ke stadion dengan menunjukkan bukti tiket tersebut lewat pintu D tribun ekonomi stadion sebelah selatan(berdekatan dengan genset lampu stadion), 3 orang teman saya duduk di tribun ekonomi sebelah selatan(tribun Kepet) sedangkan saya bersama seorang teman saya, Reza terus berjalan hingga duduk di area tribun utara(tribun Yuli). Dalam pertandingan tersebut Yuli Sumpil datang ke stadion dan menjadi dirigen di tribun utara, sementara tribun selatan hanya dipimpin Cak No.

Pertandingan dimulai sekitar pkl 15.30, satu persatu pemain Arema memasuki lapangan yaitu Aji Santoso, Andi Setiono, Aris Susanto, Kharis Yulianto, Agus Setiawan(kiper), Joko Susilo, Nanang Supriadi, Dwi Sasmianto, Khusnul Yuli, Rustanto Swi Wahono, Johan Prasetyo, Suswanto, Abdul Aziz, Didit Thomas, dan didukung 2 pemain asingnya Jaime Rojas, dan Marcus Rodriguez.

Pertandingan itu berakhir dengan skor 3-0 untuk keunggulan tim Arema. Sayang, hanya 2 orang yang saya ingat sebagai pencetak gol kala itu Jaime Rojas dan Joko Susilo, dikarenakan selain suasana yang ramai juga ratusan Aremania membanjiri pinggir lapangan dan cukup membuat kami yang masih duduk di tribun seperti dihadang semacam "rintangan" alami untuk terus memusatkan perhatian ke arah lapangan. Meskipun, dari tribun Yuli dan ratusan Aremania menerikakkan koor "Seng ngarep lungguh..Seng ngarep lungguh.." sayangnya hanya membaut efek selama beberapa saat dan setelah itu keadaan kembali seperti semula.

Yang menarik pada pertandingan kala itu, bomber Arema Marcus Rodriguez diparkir oleh Daniel Rukito dengan alasan cedera. Tak mau menunjukkan dirinya yang sakit, di pertengahan babak kedua Marcus bermain bola, dan berjuggling ria dengan disaksikan ribuan Aremania di tribun selatan. Koor serempak meneriakkan kata "Hiya.. Hiya.." ketika kaki Marcus menyentuh bola tersebut. Sayangnya, di kemudian hari tepatnya sebelum tour Sumatera melawan PSPS Pekanbaru dan PSDS Deli Serdang kedua pemain asing asal Chile tersebut Marcus Rodriguez dan Jaime Rojas mangkir dari tim Arema. Meski kehilangan 2 pemain tersebut tidak menghalangi perjalanan Arema di sisa pertandingan penyisihan kompetisi Liga Indonesia 2002 tersebut, namun efeknya sangat terasa ketika Arema menginjak babak 8 besar di Stadion Petrokimia Gresik. Formasi 3-6-1 dengan menumpuk pemain tengah ala Daniel Rukito tidak cukup menghadang 2 finalis Ligina 2002, Petrokimia Gresik dan Persita Tangerang dengan skor 3-0 dan 1-0. Di pertandingan pertama melawan Petrokimia Arema harus kehilangan Andi Setiono yang terpaksa dikartu merah wasit. Arema akhirnya hanya dapat mencuri kemenangan lewat pertandingan terakhir melawan Persipura di Lamongan dengan skor 1-0. Di babak 8 besar tersebut tidak sekalipun bomber muda Arema, Johan Prasetyo mencetak gol sehingga sampai akhir musim kompetisi jumlah gol yang dikoleksinya tetap stagnan dengan 14 gol.

Ada beberapa hal yang menarik dari cerita perjalanan Arema di musim kompetisi 2002 tersebut yaitu :
1. Musim pertama Aji Santoso balik ke Arema setelah melanglang buana meninggalkan Arema selama 7 tahun. Aji Santoso sempat bermain dengan Persebaya(1995-1999), PSM Makassar(1999-2000), Malang United aka Persema Malang(2001) .
2. Musim terakhir karier Charis Yulianto yang telah bermain bersama Arema selama 5 tahun lebih.
3. Musim pertama Arema setelah sepeninggal beberapa legenda seperti Juan M. Rubio, I Putu Gede dan pemain muda fenomenal seperti Miftahul huda, bamidelle Frank Bob Manuel, dll.

Menilik dari tulisan diatas, seyogyanya kita(Aremania dan Aremanita) dapat mengambil beberapa pelajaran diantaranya semangat pantang menyerah untuk meraih hasil yang maksimal, tidak malu sebagai Aremania/ta dan mari kita jadikan kemenangan Arema Indonesia atas Persik Kediri hari ini sebagai tonggak kemajuan Arema Indonesia. Posisi Arema di musim 2002 adalah sama dengan saat ini. Dimulai dengan gonjang ganjing masalah dana, hingga posisi Arema yang ditempatkan sebagai kuda hitam namun Arema ketika itu berhasil melewatinya sebagai runner up group dibawah Semen Padang(yang diperkuat oleh Erol FX iba dan Ellie Aiboy ketika itu) hingga tembus Babak 8 Besar. Musim ini, sekedar meraih posisi 8 besar adalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih Arema indonesia lewat arahan Meneer Robert Albert, bahkan untuk sekedar menjadi Juara ISL 2009/2010 banyak Aremania/ta yang meyakininya. Kuncinya adalah kerja keras dan tidak jumawa begitu saja. Ingat nawak, setelah pertandingan ini masih ada 19 ujian lagi bagi Skuad Arema Indonesia.

Salam Satu Jiwa Arema Indonesia!

Oke S.

Wednesday, October 21, 2009

Ini Aremania!

14 Oktober 2009

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya saya bisa juga menyaksikan pertandingan Arema di kandang. Berbekal sebuah syal merah putih bertuliskan One Unity for Indonesia dan Baju Arema made ini milis arema-l@yahoogroups.com akhirnya bisa juga sampai di stadion ditemani teman SMP saya, Reza.

Meski pertandingan berakhir dengan kekecewaan bagi Aremania(Skor 0-0) tapi tidak akan menyurutkan hati saya untuk stau saat mampir lagi ke stadion Kanjuruhan Malang, menyaksikan laga Arema Malang berikutnya.

Ada kejadian menarik di Stadion Kanjuruhan tatkala pertandingan Arema Malang vs PSPS Pekanbaru berlangsung, dimana masih ada kontrol emosi oleh Aremania ketika menyaksikan rekan Aremania atau penonton lain "kehilangan kesadaran" dengan melakukan vandalisme berupa aksi pelemparan ke tengah lapangan. Penonton yang melakukan aksi pelemparan itu akhirnya dapat hukuman berupa lemparan balasan penonton lain disertai koor huu.. Untungnya hal ini tidak mendapat tentangan berarti dari "korban" lemparan dan koor huu dari Aremania lainnya.



Sayang, hal ini tidak berlangsung lama, diakhir pertandingan belasan penonton melakukan aksi pelemparan spontan ke arah lapangan, terutama ditujukan kepada polisi!. Meski dengan alibi apapun yang namanya pelemparan dan tindakan vandalisme sudah masuk kategori unsportivitas.

Untuk segalam macam aksi kreatif dan atraktif Aremania sepanjang pertandingan saya bisa berucap INI AREMANIA!, tapi untuk segala macam tindakan vandalisme saya yakin INI BUKAN AREMANIA!

Bendungan Sengguruh, 18 Oktober 2009

Bicara mengenai bendungan, sebenarnya di Malang Raya ini memiliki beberapa bendungan. Mulai dari yang terkenal seperti Bendungan Sutami(Karangkates), Bendungan Selorejo hingga yang "terpinggirkan" seperti Bendungan Sengguruh.


Menurut info yang beredar, Bendungan ini difungsikan selain untuk menyuplai listrik bagi sebagian penduduk Malang juga digunakan untuk memperpanjang ekonomis Bendungan Karangkates karena fungsinya sebagai penahan sedimentasi bagi Bendungan Karangkates itu sendiri.


Dibilang "terpinggirkan" karena sebenarnya Bendungan Sengguruh menawarkan potensi pariwisata yang ekonomis. Disini selain menikmati pemandangan di sekitar Bendungan yang cukup menawan juga menyajikan keunggulan lain. Misal, pasar ikan dadakan yang dilakukan nelayan bendungan yang berada di Sungai Brantas dan Lesti ini kerapkali menawarkan ikan segar hasil pancingan nelayan setempat. Untuk harga dijamin murah, apalagi jika kita pandai menawar(Info kakak saya yang menawarkan pertama kali tempat ini kesaya bilang bahwa waktu terbaik untuk melakukan penawaran adalah ketika kondisi pasarnya sedang sepi alias berada di hari kerja atau pada sore hari). Ketika hari Minggu kemarin saya sempatkan membeli ikan Mujaer dan Nila ukuran besar(sekilo sekitar 2 ekor) sebanyak 12 ekor ikan dengan harga 42.000 rupiah(Di bulan sebelumnya, kakak ipar saya membeli 3 ekor ikan tombro sebesar tangan orang dewasa/berat lebih dari 7kilo seharga 50.000rupiah aja). Bila ikannya ingin dimasakin juga bisa. Kita bisa minta ke beberapa pemilik warung yang bertebaran disana. Sebagai tambahan info, biaya menggoreng dan membakar 12 ekor ikan yang kami beli cuman seharga 10.000 rupiah aja. Ditambah 10.000 rupiah lagi untuk tambahan nasi sebakul dan lalapan sebagai teman ikan bakar/gorengnya. Murah kan?


Tambahan info lagi, di Pasar Besar Malang ikan mujaer/nila berukuran sedang dijual dengan harga 12.000 rupiah. Di restoran, harga seporsi ikan mujaer/nila ukuran besar bisa dijual minimal 15.000rupiah.

Hutan Kota Malabar


Sudah lama saya ngunjungi salah satu hutan di tengah Kota Malang. Letaknya di Jalan Malabar karna itu dinamai sebagai Hutan Kota Malabar. Luasnya sebenarnya tidak seluas hutan Kota Lambau yang sekarang sudah dibangun perumahan elite yang dimiliki Bakr**land.


Dibanding 10 tahun lalu ketika Hutan Kota Malabar masih banyak sebidang tanah kosong yang tidak terpakai, kini Malabar sudah mirip hutan tropis, alias kawasan seluas sekitar 1,6Ha ini sudah dipenuhi aneka pepohonan yang konon katanya ketika malam tiba jadi hutan yang senyap dan sedikit mencekam. Meski begitu, bagian sebagian orang hutan Kota Malabar ini cocok digunakan sebagai sarana edukasi, ruang terbuka hijau, hingga kolam air yang ditengah hutan ini katanya menjadi daerah resapan air dan airnya digunakan untuk mengairi sebagian taman di Kota Malang.


Bagi kami, alumni pramuka Argowulas, Hutan Kota Malabar adalah tempat yang nyaman untuk digunakan outbound, halang rintang hingga melatih teknik kepramukaan lainnya disini.

Songgoriti, 11 Oktober 2009

Well, ini foto2 dari liburan ke Malang kemarin. Datang ke Malang pada hari Sabtu, 10 Oktober 2009 dan besoknya setelah jalan2 di Pasar Minggu langsung jalan ke Songgoriti. Tempat Wisata Songgoriti terletak di Kota Batu, letaknya di kaki bukit Gunung Banyak(yang terkenal akan wisata paralayangnya). Jalan kearah Songgoriti dari Kota Malang sudah cukup baik dan beraspal. Di sepanjang kanan - kiri jalan akan disuguhi pemandangan kebun sayuran. Jika anda beruntung, maka anda dapat turut serta merasakan panen sayuran di kebun tersebut. Seperti yang saya lakukan pada waktu tersebut, hanya bermodal 5000 rupiah sudah mendapat 4 buah sayuran brokoli putih yang masih segar karena dipetik langsung dari kebunnya(masih lebih murah daripada brokoli Cisarua yang harganya mencapai 5000 rupiah per buahnya).

BTT, berikut saya masukin saja foto2 untuk tempat wisata Songgoriti ini. Selain menawarkan pesona air panas, Songgoriti juga menawarkan keindahan panorama alam, Pasar Wisata dan berbagai keunggulan lainnya.




Wednesday, July 08, 2009

Sajak Cinta untuk Arema

Dewasa ini banyak kalangan masyarakat menyebut Arema bukanlah sebagai akronim dari kependekan Arek Malang saja, tapi seolah sudah mengalami generalisasi sempurna menjadi sebuah Klub Sepakbola yang dicintai pendukungnya. Arema dipandang tidak hanya sebagai simbol kebanggaan semata, tetapi juga sebagai way of life dan agama kedua bagi sebagian warga Malang. Dalam konteks religi tersebut, keberadaan Arema dipandang sebagai mainstream yang harus dipertahankan, meski harus dibayar dengan pengorbanan darah, keringat dan air mata. Tidak terhitung pula martir-martir yang berkorban nyawa hanya untuk Arema. Meski begitu, perwujudan Arema adalah simbolisasi kuat perwujudan tatanan hidup masyarakat Malang ditengah pengikisan kehidupan sosial dan budaya oleh arus globalisasi.

Malang sendiri adalah kota yang tenteram. Wilayah yang teranugerah oleh Tuhan YME berupa tanah yang subur dan masyarakat yang makmur. Malang adalah kota dengan seribu keunikan, satu diantaranya karakter masyarakat yang keras dalam berpendirian, tegar dalam menghadapi cobaan dan ksatria dalam menghadapi semua tantangan. Karakter-karakter yang tidak akan luntur meski dalam kungkungan sanksi dan jeruji besi. Satu implikasi karakter tersebut adalah Malang dengan segenap Aremanianya tidak akan pernah menjadi seorang pecundang dengan mengorbankan mental ksatria kami untuk menjadi pengemis. Kami rela bermandikan duri dan derita, asalkan keyakinan kami tidak terhapus oleh tawaran konyol yang menguras darah dan daging kami. Dengan segenap keyakinan teguh, kami bersyukur Tuhan YME masih menjaga kami pada karakter yang melekat pada diri kami.

Malam ini, Malang telah terselimuti cahaya bulan nan benderang. Erangan suara jangkrik dan binatang malam melelapkan kami pada pengharapan yang indah akan Arema, sebuah kebanggan yang telah kami pertahankan dalam suka dan duka. Di kolong langit, angin-angin mengeras, daun-daun menari dan cahaya lampu kota memberikan suasana temaram bagi sisa kehidupan yang akan bangkit kembali menjelang fajar. Dalam malam yang sunyi dan damai, aku menuliskan sajak cinta untuk Arema.

Kalau tidak karena Arema
maka apalah yang bisa kami punya
Karena dia(Arema) kami(Aremania) ada
pantang surut melangkah menapak dunia.

Menjejak waktu, menanam asa
bergegas maju, menggapai juara
kenanglah cinta untuk meraih suka
antarkan Arema meraih cita.

Wahai Manajemen dan Yayasan Arema, tautkan Arema-ku, Arema-mu dan Arema-kita sebagai darah dan urat nadimu. Perkenankanlah kami mengingatkanmu tentang rekan-rekan kami yang menjadi martir di masa lalu. Siapa lagi kalau bukan untuk Arema-ku, Arema-mu dan Arema kita semua. Haruskah kebangkitan Arema dibayar dengan tunggal nyawa seperti dimasa lalu? Niscaya, Bloed, Zweet en tranen takkan kami biarkan terurai kalau tidak untuk Arema-ku, Arema-mu dan Arema kita.

Duhai Manajemen & Yayasan Arema, Janganlah engkau Jual Arema-ku, Jangan jadikan Arema-ku sebagai tim berpelat merah, dan janganlah pula engkau korbankan Arema-ku untuk kepentingan sesaat. Berikan persembahan terbaik untuk Arema kita di tahun terakhir-mu. Esok hari kami bebankan bintang emas kepadamu untuk kau pahat diatas logo Arema.

Thursday, June 11, 2009

50 things you must knowing about Arema & Aremania from decade 1990-1999

Tadinya mau dibuat 100, tapi mungkin lebih baik dibuat 50 dulu sambil memberi kesempatan penikmat sejarah Arema dan Aremania untuk menambahkannya. Tentunya, data di bawah ini mungkin masih ada yang kurang, koreksi, saran dan kritik sangat diperlukan disini.

1. Ikut merasakan Arema jadi Juara Galatama tahun 1992, Gelar Juara pertama yang dimiliki Arema dalam kompetisi yang berskala nasional.

2. Ikut menyaksikan Singgih Pitono jadi top skorer Liga Galatama sebanyak 2 kali di awal dekade 90an.

3. Setidaknya selama minimal 6 kali menjadi saksi derby Arema melawan Persema Malang.

4. Turut menyaksikan bergabungnya Aji Santoso ke dalam Tim Nasional Indonesia dan merebut Medali Emas di SEA Games 1991.

5. Mulai bergabungnya beberapa legenda Arema di dekade ini : Nanang Supriadi, Joko Susilo, Setyo Budiarto, dll.

6. Ikut menyaksikan terbentuknya Aremania.

7. Sebelum Aremania berkibar, jumlah penonton di Arema di Stadion Gajayana rata-rata hanya berkisar 7000-9000 penonton(minus vs Persebaya dan Mitra Surabaya). Jumlah yang meningkat dua kali lipat ketika Aremania berkibar di Stadion Gajayana Malang, dan tiga kali lipat di dekade berikutnya dengan memakai Stadion Kanjuruhan Malang.

8. Pendapatan kotor Arema di tiap pertandingan masih dibawah 50 juta rupiah(minus pertandingan melawan Persebaya Surabaya dan Mitra Surabaya). Pendapatan ini akan naik berlipat- lipat di dekade berikutnya.

9. Turut bersedih, marah dan kecewa atas kepindahan Aji Santoso ke Persebaya Surabaya di tahun 1995.

10. Rekor jumlah penonton di pertandingan kandang Arema adalah ketika melawan Pelita Jaya di awal tahun 1999 dengan jumlah penonton 25.000 orang dan pendapatan tiket seebsar 125 juta rupiah.

11. Era dimulainya perekrutan pemain asing di Arema. Sampai-sampai muncul selentingan, pemain asing digunakan untuk merekrut banyak penonton untuk datang langsung ke stadion. Sayangnya, sampai sebelum Ligina III 1996/1997 pemain asing yang direkrut Arema terhitung hanya berkontribusi minim kepada Arema.

12. Sekitar 5 tahun lebih di dekade 90an, duet Singgih Pitono - Mecky Tata menjadi duet maut Arema. Mendominasi barisan penyerang Arema ketika itu.

13. Kerusuhan di Surabaya, Gresik, Jogja, yang melibatkan penonton Malang dan Aremania.

14. Turut menyaksikan kemenangan Arema atas musuh bebuyutannya Persebaya Surabaya 3-0 di Stadion Gajayana pada Liga Indonesia 1995/1996.

15. Turut menyaksikan kemenangan Arema atas tim kuat PSM Makassar sebesar 5-1 pada Liga Indonesia 1994/1995. Dua pertandingan yang sulit dimenangkan Arema dengan skor sebesar itu di masa kini meskipun dengan dukungan pelatih sekaliber Benny Dollo, Bambang Nurdiansyah, dll.

16. Turut menyaksikan Arema terbelah pada dua kepelatihan yang berbeda menjelang Liga Indonesia 1999.

17. Turut menyaksikan terhentinya Liga Indonesia di tengah jalan karena kekacauan politik.

18. Tour di Jogja dengan modal 11.000 rupiah sudah dapat tiket, transportasi PP dan makan.

19. Musim kompetisi Galatama 1990-1992 menjadi puncak prestasi secara pribadi dari Singgih Pitono. Menjadi top skor dengan 21 gol.

20. Liga Indonesia 1994/1995, top skor Arema adalah Singgih Pitono dengan 14 Gol. Jumlah yang sama diperoleh Mulyono dari Mitra Surabaya.

21. Sedih dan berduka tatkala Arema Malang dibantai 6-1 oleh Persebaya di Stadion Gelora 10 November Surabaya pada Liga Indonesia 1996/1997.

22. Harga tiket ekonomi pada awal bergulirnya Liga Indonesia adalah sebesar Rp. 3500,00.

23. Partai kandang terakhir di Liga Indonesia I, diwarnai oleh kemenangan Arema atas Mitra Surabaya dengan skor 2-1. 2 Gol dicetak oleh Singgih Pitono lewat titik penalti dan tendangan bebas pada babak pertama.

24. Aji Santoso pindah ke Persebaya Surabaya di tahun 1995 dengan memecahkan rekor transfer sebesar 50 juta rupiah. Di kemudian hari rekor ini dipecahkan oleh duo pemain muda Arema, Suswanto dan Johan Prasetyo ketika pindah ke Persik Kediri.

25. Pada tahun 1992, Arema menjadi runner up Piala Liga 1992.

26. Di tahun 1993, libero Arema Imam Hambali mengalami cera parah ketika melawan Mitra Surabaya. Setelah tragedi itu karir Imam Hambali perlahan surut hingga akhirnya pensiun dari hingar bingar kompetisi nasional Sepakbola Indonesia.

27. Derby pertama kali antara Arema Malang dan Persema Malang ditahun 1993 berakhir ricuh. Masih-masing 1 pemain dari kedua tim di kartu merah.

28. Bangga ketika Arema menjadi runner up wilayah barat musim kompetisi Liga Indonesia III. Sayang langkahnya dihentikan di babak 12 besar yang berlangsung di Makassar.

29. Nelson L. Sanchez, Juan Rubio turut mengawali kiprah besar pemain asing di Arema Malang yang memiliki kontribusi signifikan dengan memberikan prestasi bagi tim yang dibelanya.

30. Pada Galatama 1992/1993 Arema disponsori oleh Tomen(Toya Menko).

31. Turut menyaksikan terpuruknya Arema di Liga Indonesia 1995/1996 dengan mengemas peringkat 12 dari 16 peserta.

32. Pada Liga Indonesia 1995/1996 inilah Arema hanya mengumpulkan 19 gol memasukkan ke gawang lawan. Persentase gol produktif terburuk Arema di dekade itu.

33. Di tahun 1993, Arema kehilangan Singgih Pitono yang diskorsing oleh PSSI selama 1 tahun akibat baku pukul karena terprovokasi oleh Lulus Kistono, eks pemain Arema yang membela Mitra Surabaya ketika itu.

34. Hanya 4 gol yang dikemas oleh Singgih Pitono di musim kompetisi 1995/1996. Sekaligus menandai akhir dari kiprah Singgih Pitono bersama Arema.

35. Di musim kompetisi Liga Indonesia 1994/1995, genderang dan drum mulai di tabuh di Stadion Gajayana Malang ketika Arema bertanding(Arema mengawali 1 windu daripada yang dilakukan saudara tuanya, Persema Malang).

36. Di awal tahun 1990an, tribun ekonomi Stadion Gajayana disulap dari yang tadinya memakai rumput menjadi tribun beton.

37. Di tahun 1996, proyek pemasangan lampu Stadion Gajayana Malang yang menghabiskan dana lebih dari 2 Miliar rupiah dimulai.

38. Di akhir 1990an, atraksi bendera Aremania dan Padamu Negeri diperkenalkan.

39. 1996, tahun dimulainya karir Kharis Julianto, salah satu stopper terbaik Arema di pentas sepakbola Indonesia, dan sekarang menjadi Kapten Timnas Indonesia.

40. Turut menyaksikan ketangguhan Juara Piala Champions Asia 1994, Thai Farmers Bank yang berhaasil menahan imbang Arema 2-2 di Stadion Gajayana Malang. 2 Gol Arema dicetak oleh Singgih Pitono dan Mecky Tata.

41. Terbentuknya Arema Fans Club(AFC), namun di tahun 1994 AFC dibubarkan dan lambat laun muncul nama Aremania.

42. Dari sekian nama pemain asing yang pernah membela Arema kebanyakan berasal dari benua Afrika dan Amerika Latin. Namun tahukah Anda bahwa pemain asing pertama yang membela Arema adalah berasal dari benua Kangguru yaitu Michael dan Alex(Axel?) pada Liga Indonesia I.

43. Pada 6 Desember 1990, Arema Malang sukses mengalahkan Mitra Surabaya dengan skor 3-1. Gol Arema dicetak oleh Mecky Tata(2 Gol) dan Joko Slamet.

44. Skor kemenangan terbesar Arema di kandang pada gelaran kompetisi Liga salah satunya dihasil oleh kemenangan Arema atas Aceh Putra dengan skor 6-1 pada 3 Maret 1991. Arema juga sukses mendouble lawan yang sama di musim kompetisi tersebut dengan skor agregat 9-1. Skor agregat terbaik yang dimiliki oleh Arema dalam satu musim kompetisi sampai dengan saat ini.

45. Pada dekade 90an, merunut dari data statistik tim yang paling sulit untuk dikalahkan di kandang sendiri adalah PKT Bontang!

46. Jumlah gol terbanyak yang dimiliki oleh Arema dalam satu musim kompetisi terdapat pada Galatama 1990-1992. Arema mencetak 54 gol dari 37 pertandingan(terbanyak sepanjang masa jika dihitung pada format babak reguler saja).

47. 112 Gol yang dihasilkan oleh Arema sejak Liga Indonesia I hingga pertandingan terakhir di dekade 90an yaitu Matchday 5 Liga Indonesia VI yang dipertandingkan pada 28 November 1999.

48. Di akhir tahun 1998, salah satu el capitano Arema, I Putu Gede mulai bermain dan mengikat kontrak dengan Arema Malang. Ketika itu I Putu Gede masih berusia hampir 25 tahun.

49. Lihat lapangan luar Stadion Gajayana Malang sebelah barat. Jika lapangan sebelah selatan udah menjadi bagian Mall dan Hotel maka dulunya masih berupa lapangan sepakbola yang sering dipergunakan warga sekitar untuk bermain bola. Bahkan di awal tahun 90an, tempat parkir stadion sebelah timur masih beralaskan rumput, bukan aspal seperti saat ini.

50. Publik Malang tentu masih ingat di awal dekade 90-an harga berbagai bahan komoditas tentu masih jauh lebih "murah" jika dibandingkan dengan saat ini. Sebagai contoh, makanan dan minuman yang sering diperjual belikan di Stadion Gajayana ketika Arema bertanding seperti Tahu, Kacang kulit dan kacang goreng dihargai cepek alias seratus rupiah. Harga minuman mineral seperti merk Aqua, Ades, dll dihargai sekitar 150 rupiah.