Akhir Puasa 8 Tahun Arema!
Banyak rekan Aremania yang bergantung akan Aremania ini. Maklum sekian tahun Arema Indonesia berjumpa dengan Persik Kediri selalu diliputi kekalahan. Total ada 5 kekalahan Arema Indonesia yang diderita atas musuh bebuyutannya ini sejak pertemuan pertama yang menghasilkan kerusuhan di Stadion Brawijaya Kediri di tahun 2003 lalu.
Banyak yang bertanya-tanya mengenai pertemuan Arema Indonesia dengan Persik Kediri yang "selalu" diliputi kekalahan. Hal ini memang bisa terjadi dengan menganalogikan bahwa bola itu bundar, namun tetap saja ada penjelasan teknis yang mengirinya. Seperti misalnya kekalahan pertama yang diderita Arema atas Persik di Stadion Brawijaya Kediri yang berbuah kerusuhan. Persik Kediri ketika itu memiliki belasan komponen yang musim sebelumnya bergabung dengan Arema. Seperti Pemain muda Johan Prasetyo, Suswanto, Khusnul Yuli, dan pemain senior macam Harianto, Wawan Widiantoro, Pemain asing yang pernah memperkuat Arema di tahun 2001 Bamidelle Frank BobManuel(di akhir musim bersaing dengan Christian Gonzales dan Oscar Aravena untuk menjadi top scorer), dan gabungan staf pelatih seperti Jaya Hartono(pernah menjadi asisten pelatih Arema), Micky Tata dan Sukriyan(legenda Arema) dan manager Iwan Budianto yang 2 tahun berturut-turut menjadi manager Arema di Liga Indonesia 2000-2002. Praktis, pemain yang masih "lulus seleksi" alam tinggal Nanang Supriadi, Joko Susilo, Aji Santoso, Setyo Budiarto, Hermawan(main di Arema Indonesia sekarang) , dengan tambahan pemain senior seperti Kurnia Sandy, Listyanto Raharjo(Putaran Kedua digantikan oleh Anshar Abdullah - mantan pemain PSM) dan barisan pemain asing seperti Tibidy Alexis, Christian Cespedes, Rodrigo Araya, Simamo Armand basile(tiga nama terakhir bergabung pada window transfer kedua LI 2003).
Pertemuan pertama di Stadion Brawijaya tertanggal 27 Februari 2003 lalu bisa dibilang Persik siap 100% dalam menghadapi Arema yang didukung puluhan ribu penontonnya. Dengan materi pemain yang kebanyakan hasil bedol desa dari Bumi Arema, masing-masing pemain seperti sudah memahami karakter sepakbola Malangan itu sendiri. Skor 1-0 sebelum kerusuhan dengan didukung keberpihakan wasit pada tim tuan rumah seolah menjadi pelengkap pesta kemenangan anak asuh Jaya Hartono ketika itu. Di akhir tahun 2003, Persik juga mengungguli pemain Arema yang ketika itu sudah dilatih Benny Dollo dalam perebutan tempat ketiga Piala Gubernur Jatim. Skor akhir adalah 4-3 yang didapat dari adu tendangan penalti setelah 90 menit waktu normal dan 30 menit babak perpanjangan waktu didapat hasil imbang 0-0. Harap diingat ketika itu sebagian besar pemain Arema yang bertanding melawan Persik tersebut masih didera kelelahan luar biasa setelah melakukan Training Center dan 3 ujicoba di Pulau Dewata. Skuad Arema ketika itu masih diperkuat I Putu Gede, Joao Carlos, Erol FX Iba, Sonny Kurniawan, Sunar Sulaiman, Aris Budi Prasetyo, dll dan ketika itu Arema akan menghadapi pertandingan Divisi I Liga Pertamina 2004.
Setelah laga di Piala Gubernur 2003 tersebut, skuad Arema Malang baru bertemu lagi dengan Persik Kediri 2 kali di Babak 8 Besar Liga Indonesia 2005 di Jayapura dan Liga Indonesia 2006 di Solo yang kesemuanya di menangkan oleh Persik Kediri. Bahkan 3 pertemuan berturut-turut berikutnya(1 di Piala Gubernur 2008, dan dua ISL 2009) dimenangkan Persik Kediri dengan 2 laga diantaranya dimainkan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo dihadapan pendukung kedua tim.
Kembali pada kemenangan yang didapat Arema Indonesia atas Persik hari ini, banyak yang menganggap bahwa ini adalah kemenangan pertama Arema Indonesia. Namun, anggapan ini bisa jadi benar bila melongok pada pertemuan Arema dan Persik Kediri hanya di pentas Liga Indonesia saja dimana Persik Kediri mencatatkan 6 kemenangan dan 2 kali seri atas Arema sebelum pertandingan sore tadi. Tapi sejarah mencatat Arema Malang pernah menang atas Persik Kediri dengan skor telak 3-0, tepatnya pada 7 Januari 2002 di Stadion Gajayana Malang. Inilah pertemuan pertama kedua tim dan ketika itu Arema Malang dilatih oleh Daniel Rukito, sedangkan Persik Kediri oleh Jaya Hartono. Arema Malang ketika itu bersiap untuk mengikuti debutnya pada Divisi Utama Liga Indonesia 2002 menghadapi Persita Tangerang di Stadion Benteng seminggu kemudian, sedangkan Persik Kediri melakukan ujicoba tersebut sebagai persiapan menjalani Divisi I Liga Indonesia 2002(ketika itu Persik Kediri berstatus sebagai Juara Divisi II Liga Indonesia 2001).
Pertandingan tersebut dilakukan sedikitnya dihadapan 17.000 Aremania yang memadati Stadion Gajayana di sore hari itu(berdasarkan kalkulasi Harian Jawa Pos dan Surya). Namun, hanya ada 8.000 tiket yang dijual untuk pertandingan sore itu(rinciannya 2.000 tiket VIP dan 6.000 tiket ekonomi). Saya sendiri menonton pertandingan tersebut di Tribun Ekonomi yang dijual seharga 5.000 rupiah. Tiket yang saya beli berupa tiket sobekan yang dijual Panpel lewat Loket sebelah Selatan VIP namun ditandai dengan tambahan stempel di belakangnya. Panpel ketika itu tidak siap dengan animo membeludaknya penonton, dari kapasitas 2000 penonton di tribun VIP dijubeli oleh sekitar 3.000 Aremania, seribu diantaranya naik ke tribun dengan memanfaatkan memanjat dinding lewat batang bambu spanduk, tali yang didapat dari melilitkan spanduk, menggabungkan syal dan lainnya. Sementara lebih dari 8.000 Aremania lainnya masuk dengan cara menerombol, memanjat dinding(dinding Stadion Gajayana ketika itu tingginya masih sekitar 6 meter untuk 10 rows), atau membeli tiket secara resmi dari Panpel meski berupa sobekan kecil berstempel seperti saya.
Kami berlima masuk ke stadion dengan menunjukkan bukti tiket tersebut lewat pintu D tribun ekonomi stadion sebelah selatan(berdekatan dengan genset lampu stadion), 3 orang teman saya duduk di tribun ekonomi sebelah selatan(tribun Kepet) sedangkan saya bersama seorang teman saya, Reza terus berjalan hingga duduk di area tribun utara(tribun Yuli). Dalam pertandingan tersebut Yuli Sumpil datang ke stadion dan menjadi dirigen di tribun utara, sementara tribun selatan hanya dipimpin Cak No.
Pertandingan dimulai sekitar pkl 15.30, satu persatu pemain Arema memasuki lapangan yaitu Aji Santoso, Andi Setiono, Aris Susanto, Kharis Yulianto, Agus Setiawan(kiper), Joko Susilo, Nanang Supriadi, Dwi Sasmianto, Khusnul Yuli, Rustanto Swi Wahono, Johan Prasetyo, Suswanto, Abdul Aziz, Didit Thomas, dan didukung 2 pemain asingnya Jaime Rojas, dan Marcus Rodriguez.
Pertandingan itu berakhir dengan skor 3-0 untuk keunggulan tim Arema. Sayang, hanya 2 orang yang saya ingat sebagai pencetak gol kala itu Jaime Rojas dan Joko Susilo, dikarenakan selain suasana yang ramai juga ratusan Aremania membanjiri pinggir lapangan dan cukup membuat kami yang masih duduk di tribun seperti dihadang semacam "rintangan" alami untuk terus memusatkan perhatian ke arah lapangan. Meskipun, dari tribun Yuli dan ratusan Aremania menerikakkan koor "Seng ngarep lungguh..Seng ngarep lungguh.." sayangnya hanya membaut efek selama beberapa saat dan setelah itu keadaan kembali seperti semula.
Yang menarik pada pertandingan kala itu, bomber Arema Marcus Rodriguez diparkir oleh Daniel Rukito dengan alasan cedera. Tak mau menunjukkan dirinya yang sakit, di pertengahan babak kedua Marcus bermain bola, dan berjuggling ria dengan disaksikan ribuan Aremania di tribun selatan. Koor serempak meneriakkan kata "Hiya.. Hiya.." ketika kaki Marcus menyentuh bola tersebut. Sayangnya, di kemudian hari tepatnya sebelum tour Sumatera melawan PSPS Pekanbaru dan PSDS Deli Serdang kedua pemain asing asal Chile tersebut Marcus Rodriguez dan Jaime Rojas mangkir dari tim Arema. Meski kehilangan 2 pemain tersebut tidak menghalangi perjalanan Arema di sisa pertandingan penyisihan kompetisi Liga Indonesia 2002 tersebut, namun efeknya sangat terasa ketika Arema menginjak babak 8 besar di Stadion Petrokimia Gresik. Formasi 3-6-1 dengan menumpuk pemain tengah ala Daniel Rukito tidak cukup menghadang 2 finalis Ligina 2002, Petrokimia Gresik dan Persita Tangerang dengan skor 3-0 dan 1-0. Di pertandingan pertama melawan Petrokimia Arema harus kehilangan Andi Setiono yang terpaksa dikartu merah wasit. Arema akhirnya hanya dapat mencuri kemenangan lewat pertandingan terakhir melawan Persipura di Lamongan dengan skor 1-0. Di babak 8 besar tersebut tidak sekalipun bomber muda Arema, Johan Prasetyo mencetak gol sehingga sampai akhir musim kompetisi jumlah gol yang dikoleksinya tetap stagnan dengan 14 gol.
Ada beberapa hal yang menarik dari cerita perjalanan Arema di musim kompetisi 2002 tersebut yaitu :
1. Musim pertama Aji Santoso balik ke Arema setelah melanglang buana meninggalkan Arema selama 7 tahun. Aji Santoso sempat bermain dengan Persebaya(1995-1999), PSM Makassar(1999-2000), Malang United aka Persema Malang(2001) .
2. Musim terakhir karier Charis Yulianto yang telah bermain bersama Arema selama 5 tahun lebih.
3. Musim pertama Arema setelah sepeninggal beberapa legenda seperti Juan M. Rubio, I Putu Gede dan pemain muda fenomenal seperti Miftahul huda, bamidelle Frank Bob Manuel, dll.
Menilik dari tulisan diatas, seyogyanya kita(Aremania dan Aremanita) dapat mengambil beberapa pelajaran diantaranya semangat pantang menyerah untuk meraih hasil yang maksimal, tidak malu sebagai Aremania/ta dan mari kita jadikan kemenangan Arema Indonesia atas Persik Kediri hari ini sebagai tonggak kemajuan Arema Indonesia. Posisi Arema di musim 2002 adalah sama dengan saat ini. Dimulai dengan gonjang ganjing masalah dana, hingga posisi Arema yang ditempatkan sebagai kuda hitam namun Arema ketika itu berhasil melewatinya sebagai runner up group dibawah Semen Padang(yang diperkuat oleh Erol FX iba dan Ellie Aiboy ketika itu) hingga tembus Babak 8 Besar. Musim ini, sekedar meraih posisi 8 besar adalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih Arema indonesia lewat arahan Meneer Robert Albert, bahkan untuk sekedar menjadi Juara ISL 2009/2010 banyak Aremania/ta yang meyakininya. Kuncinya adalah kerja keras dan tidak jumawa begitu saja. Ingat nawak, setelah pertandingan ini masih ada 19 ujian lagi bagi Skuad Arema Indonesia.
Salam Satu Jiwa Arema Indonesia!
Oke S.
