Tuesday, August 01, 2006

Revolusi Kurikulum Kepramukaan Indonesia

Beberapa saat yang lalu saya berbicara menarik dengan kawan saya mengenai kenapa saya masih menjadi bagian dari Pramuka-Pramuka Argowulas meski sudah tidak intensif lagi. Bukankah masa yang lalu sudah berlalu sejak meninggalkan seragam coklat tersebut selepas lulus dari bangku SLTP. Yah saya jawab saja, kadang diantara idealisme diri masih terdapat selusin kenangan yang tidak akan bisa diulangi di lain waktu. Mungkin masa saya sudah habis(pensiun) tapi setidaknya saya bisa merasakan perjuangan saya dulu meski hanya untuk melihat adik-adik penerus yang berhasil memenangkan sebuah kejuaraan. Bolehlah saya sudah tidak mampu lagi untuk mengulangi masa yang terdahulu tapi setidaknya dengan melihat adik-adik(generasi penerus Argowulas) setidaknya ada kepuasan tersendiri yang ada dalam benak saya.

Beberapa saat kemudian obrolan telah selesai dan kami melanjutkan kegiatan masing-masing. Namun dalam hati saya masih bisa menerawang jauh, mereka-reka tentang organisasi Kepramukaan selama ini. Organisasi Kepanduan Indonesia yang bernama Gerakan Pramuka dan didirikan pada tahun 1961 ini memang telah banyak sekali menjelajahi pengamalan dalam rangka menjaga mentalitas generasi pemuda-pemudi Indonesia dari bahaya narkoba sampai dengan kenakalan remaja yang lainnya. Pramuka(Praja Muda Karana) memang cukup tepat sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di setiap sekolah. Karena salah satu sifatnya yang sebagai penyeimbang dan tetap menjaga kebersamaan dengan lingkungan yang menjadi kewajiban untuk dilestarikan.

Namun, lambat laun pikiran ini semakin jauh untuk masuk ke dalam seluk beluk Pramuka ini di tengah-tengah hiruk pikuk modernisasi, globalisasi ataupun bentuk pembaharuan lainnya. Banyak yang mengatakan bahwa Pramuka adalah suatu tindakan yang kuno, dan memang ditujukan bagi aktivis pecinta alam saja. Setiap orang boleh berpendapat seperti itu, termasuk saya dan Anda, walaupun di dalamnya ada banyak sekali unsur mendidik bagi perkembangan mentalitas dan jiwa serta kegiatan-kegiatan "mendasar" meskipun kita hidup di dunia yang serba modern tapi kadangkala kita harus kembali ke dasar dimana alur modernitas itu diciptakan.

Sampai sekarang ini Pramuka masih memegang "tradisinya" salah satu diantara dengan memasukkan materi Semaphore dan Morse sebagai bagian dari "Kurikulum" Kepramukaan Indonesia. Seperangkat alat komunikasi ini yang terdiri dari sepasang bendera berwarna merah dan kuning(Semaphore), bendera hitam putih, peluit, sinar/cahaya ataupun asap sebagai bagian dari ciri khas Pramuka. Bandingkan dengan masa sekarang ini, manusia tinggal memencet beberapa nomor untuk bisa mengirim pesan, data ataupun berhubungan dengan orang di seberang Pulau, Gunung ataupun Samudra. Selain efektivitas biaya dan berbagai hal lainnya peralatan modern ini yang kita sebut sebagai Handphone, internet dan peralatan komunikasi lainnya ini memang menjadi andalan untuk melawan berjalannya waktu yang relatif cepat. Memang tinggal pilih untuk masa yang sekarang ini, apakah meninggalkan tradisi dan ciri khas yang telah dimiliki dalam waktu yang sekian lama agar bisa bersaing di masa yang akan datang ataupun memang harus tetap berpaku pada pola lama dan menolak modernisasi, atau juga sebagai pilihan ketiga menggabungkan kedua-duanya dan bersikap lebih pasif karena pembaharuan yang berjalan secara setengah-setengah. Memang semuanya menjadi pilihan yang dilematis, dan yang terpenting semuanya kembali kepada efek dan manfaat dari Pramuka itu sendiri. Setiap organisasi tentu ada yang bersikap menginginkan sebuah pembaharuan namun ada juga yang milih sikap lainnya dan kembali ke pokok ajaran lama.

Secara umum Pramuka bukanlah suatu Organisasi yang memiliki kegiatan hanya untuk bernyanyi dan bertepuk tangan saja. Meski kita hanya belajar hanya dari ketrampilan kita bermain tali temali, namun bekal itu nyata nanti akan kita gunakan di esok hari dalam berbagai kegiatan apapun. Pramuka tidak hanya mengajarkan bahwa selain camping juga menjelajahi ataupun mencari jejak dalam suatu wilayah tapi juga mengajarkan prinsip-prinsip survival. Survival yang dimaksud disini bukan saja untuk survival di hutan, laut ataupun wilayah lainnya. Survival disini juga menyangkut bagaimana ketahanan kita untuk survive pada kondisi perekonomian, politik, dan aspek lainnya di Negara Indonesia ini.

Kita memang boleh bersikap apatis bahwa Pramuka ini lambat laun akan hilang sendirinya seiring dengan perkembangan zaman. Namun kondisi ini bukanlah suatu mutlak yang harus dihadapi oleh generasi pemuda Indonesia ini. Berbagai terobosan memang beberapa kali digalakkan untuk menjaga survive dari gerakan Pramuka itu sendiri, apakah yang menyangkut eksistensinya dalam menyelenggarakan berbagai Event seperti Jambore, Lomba Tingkat, ataupun berbagai event lainnya dari tingkat yang paling kecil(Gugus Depan) sampai dengan tingkat Internasional.

Suka gak suka inilah Pramuka sebuah Organisasi yang masih mempertahankan ciri khasnya. Seragam Coklat-Coklat pun masih menjadi seragam wajib yang lazim dipakai oleh pelajar Indonesia. Sekalipun kegiatannya masih terbilang kuno bagi pemikiran sebagian Generasi Muda Indonesia namun tetaplah Gerakan Pramuka nyatanya cukup sukses dalam rangka membendung berbagai bentuk tindakan kenakalan remaja yang makin nyaring seiring dengan adanya globalisasi yang melanda dunia. Hanya memang semuanya berfokus kepada Anda masing-masing, apakah Pramuka ini sampai dengan saat yang akan datang hanya terdiri dari kegiatan yang itu dan itu saja ataukah memang harus dilakukan pembaharuan. Salah satu Hasil pembaharuan itu adalah dilaksanakannya sebuah Jambore yang bisa menggabungkan para anggota Gerakan Kepanduan ini dari seluruh Penjuru Dunia melalui JOTA(Jambore On The Air) ataupun JOTI(Jambore On The Internet).

No comments: