Tuesday, August 24, 2010

Refleksi 23 Tahun Arema(6)

Serba-Serbi Arema di Liga Indonesia 2002.

Dokumentasi www.aremaniacyber.com

16 Mei 2002 - 20:29
Opo Maneh Thuk ???
Berikut cerita ringan Arema saat berada di Jakarta dalam rangka partai tunda Arema vs PSDS

Siapakah bintang lapangan partai tunda PSDS vs Arema di stadion Gelora Bung Karno ?, jawabannya adalah Joko Susilo alias Gethuk. Penampilannya memang cukup meyakinkan sebagai seorang kiper, bahkan ia dengan bangganya menjuluki dirinya seperti Jorge Campos sebelum mulai bertanding. Oleh pemain Arema yang lain Gethuk malah digarap, oleh Setyo Budiarto misalnya, Setyo langsung memplesetkannya menjadi Jorge ‘KAMPES’ (Kampes adalah bahasa khas Malang yang artinya –maaf—Celana Dalam)


Pemain Arema cukup santai dalam menjalani partai tunda tersebut, bermain santai dan tanpa beban membuat permainan Arema berkembang dan malah lebih menguasai pertandingan. Tapi pemain Arema justru kelewat santai, ketika bertanding beberapa pemain sempat bercanda. Malah ketika PSDS melakukan serangan balik libero Arema Hermawan berteriak keras, “Rek mbalik Rek !!”, seru Hermawan menginstruksikan pemain untuk bertahan. Hal tersebut malah dibalas canda oleh asisten pelatih yang juga stopper Arema Sunardi C, ia pun membalas teriakan Hermawan “Mbalik nang Ngalam ta??”, balas Sunardi sambil berlari mengejar pemain PSDS yang disambut tawa para wartawan dan penonton di pinggir lapangan.


Hal yang sama terjadi ketika Arema kebobolan, ketika Arema kebobolan gol ke 4, reaksi aneh ditunjukkan para pemain Arema. Para pemain Arema tertawa !!.


Arema yang terkesan ‘santai’ dan ‘tidak serius’ menjalani partai tunda awalnya mendapat reaksi dari pengurus PSSI yang hadir, Iswadi Idris sang Ketua Bidang Kompetisi PSSI misalnya, ia menilai pemain Arema tidak serius dan main-main, ia melihat dari tidak diturunkannya kiper ‘asli’. Tapi ia sendiri tak menyalahkan Arema karena ia dan pengurus PSSI lainnya yang hadir sepakat bahwa Arema memang harus lebih memprioritaskan babak 8 Besar. Tapi begitu pertandingan selesai, Iswadi Idris mengakui bahwa kalau saja Arema memakai pemain ‘kelas satunya’ PSDS akan kalah dan terdegradasi, “Pakai pemain asal-asalan saja lebih menguasai pertandingan apalagi kalau yang turun tim intinya, beruntung sekali PSDS “, komentar Iswadi. Yang jelas seusai pertandingan para pemain PSDS dan pengurusnya mendatangi bangku cadangan pemain Arema dan mengucapkan banyak terimakasih !!!


Kalau ada tuduhan Arema menjual pertandingan melawan PSDS itu sah-sah saja, tapi kalau melihat Arema mampu menguasai pertandingan dan bahkan bisa membobol gawang PSDS dan ada satu lagi,…..bahwa pemain Arema ‘bokek’ rasanya tidak mungkin pertandingan itu dijual, apalagi pemain Arema mampu menunjukkan kelasnya sebagai tim 8 Besar. Pemain Arema memang akhirnya ‘disangoni’ oleh salah seorang Aremania Jakarta yang mendampingi tim Arema. Walaupun tak seberapa, tapi itu sangat disyukuri para pemain. “Lumayan mas, buat biaya telepon “, kata Suswanto. Beberapa pemain menambahkan bahwa pemain tidak diberi uang saku untuk pergi menjalani pertandingan tunda ini. “Padahal rencananya kalau diberi uang saku mau belanja dulu “, tutur salah seorang pemain. Sayangnya kalau pun ada uang kelihatannya tidak ada waktu untuk belanja, karena seusai pertandingan para pemain Arema langsung menuju Bandara mengejar penerbangan pukul 8 ke Surabaya.


Ketika pemain Arema hendak berangkat menuju bandara, mereka ‘nongkrong’ di depan kantor PSSI menunggu bis, hal tersebut dimanfaatkan pemain Arema cuci mata melihat pemandangan indah sore hari di putaran senayan. Pada waktu sore memang di Senayan menjadi ajang jogging bagi masyarakat, tapi lucunya pemain Arema tak hanya menggoda ‘wanita’ saja, ada salah satu korban bapak tua yang berjalan kaki. Dengan tubuh kurus, rambut putih bapak tua tersebut berlagak bak seorang atlet, tak heran pemain Arema pun ‘menggarap’ bapak tua tersebut habis-habisan. [AC]
09 Mei 2002 - 15:50
Dicuekin Panpel, Tas, HP rusak, dan wanita misterius
Tanda-tanda kekalahan Arema di Pekanbaru ternyata memang sudah terasa sejak pemain Arema tiba di Pekanbaru.

Tanda-tanda itu berawal dari menghilangnya Panpel yang seharusnya memberikan pelayanan kepada skuad Arema. Tak ada tanda-tanda bis yang seharusnya disediakan untuk menjemput rombongan dari Bandara ke Hotel, alhasil Daniel Roekito pun sampai harus menyewa mobil untuk mengangkut rombongan. Hal itu kembali terulang ketika Arema latihan di stadion Rumbai dan bahkan ketika pertandingan. Hal ini jelas membuat Daniel Roekito kecewa,

“Panpel di sini mengecewakan, kami dicuekin, transportasi yang harusnya disediakan untuk tim tidak ada, untuk ada Aremania Pekanbaru yang membantu kita “, keluh Daniel Roekito. Beruntung ada Aremania Pekanbaru berinisiatif membantu Arema dengan menyewa bus untuk rombongan Arema, kalau tidak Arema mungkin harus jalan kaki selama di Pekanbaru.

Tidak hanya itu kesialan Arema. Ketika Arema sampai di Pekanbaru Johan Prasetyo mendapat musibah ketika tasnya tertinggal ketika pesawat transit di Jakarta. Beruntung tas tersebut tidak hilang, dan bisa diambil keesokan harinya.


Lain Johan, lain pula Dwi Sasmianto, Mungkin Kirun (panggilan akrab Dwi Sasmianto) mendapat firasat ‘kebobolan 5 gol’ dari rusaknya HandPhone (HP) miliknya. Sialnya, saat pagi datang ia ditelepon istrinya yang marah-marah.

“Istri saya mungkin curiga karena tidak bisa menelpon saya “, kata Kirun yang digarap habis-habisan oleh Daniel Roekito dan rekan-rekan setimnya gara-gara HP dan omelan istrinya.

Beberapa pemain Arema curiga kepada salah seorang wanita misterius yang datang ke hotel pemain Arema. Wanita misterius ini datang bersama pria setengah baya yang menggenakan peci. Ia menumpang bis pemain Arema menuju stadion. Beberapa pemain Arema berbisik bahwa wanita dan pria tersebut adalah ‘dukun’ yang disiapkan tim tuan rumah. Ada-ada saja !! [AC]


24 April 2002 - 13:01
Pemain jalan kaki dari stadion ke Mess
Cerita ringan Arema ve Persikab

Pelatih Daniel Roekito, bomber Johan Prasetyo, Charis Julianto dan beberapa pemain Arema berjalan kaki dari stadion menuju mess sebagai nazar atas kemenangan Arema melawan Persikab sekaligus merayakan lolosnya Arema ke babak 8 besar. Daniel yang sebenarnya tidak boleh capek oleh dokter tetap ngotot melakukan nazarnya walaupun jarak dari stadion Gajayana menuju mess sekitar 6 km dan kondisi jalan menanjak, sementara Johan Prasetyo dan libero Hermawan tak perduli berjalan kaki dengan kaus tim dan kondisi tubuh yang kotor karena pertandingan berlangsung di lapangan becek. Tak ayal nazar ini seperti perayaan karnaval karena banyak Aremania yang ikut dengan setia menemani sepanjang jalan.

Walau mencetak 3 gol ada sedikit kegundahan bagi Johan Prasetyo, di beberapa tabloid olahraga terkemuka torehan golnya Cuma ditulis 8 gol. Padahal ia sebelum menciptakan hattrick ke gawang Persikab ia sudah mengkoleksi 10 gol. Tak heran ia menitipkan pesan sebelum pulang ke mess ‘berjalan kaki’, “Tolong mas tabloid itu dikasih tahu “, oke Han…yang penting tambah terus golmu biar jadi top skorer !!


Andi Setiono sangat gembira dengan kemenangan Arema, karena selain menang besar melawan Persikab tidak ada satu pun pemain Arema yang terkena kartu kuning. Ini adalah pertandingan kedua musim ini dimana tidak ada satu pemain Arema pun yang terkena kartu kuning.


Daniel Roekito diam-diam punya target khusus, ia tak mau hanya jadi pecundang terus di 8 besar bersama Arema. Targetnya tak main-main, Ia mentargetkan Arema juara musim ini !!. Ia mengaku terlecut dengan nyanyian-nyanyian suporter Aremania yang menyanyikan dirinya. “Nyanyian suporter yang lucu-lucu itu justru membangkitkan semangat saya “, Nyanyian suporter itu antara lain, ‘Daniel-Roekito (2x), kami ingin ke Senayan’… [AC]


23 April 2002 - 08:45
Dibalik Sanksi
Cerita di balik sanksi yang diberikan PSSI

Malang nian nasib asisten pelatih Arema Sing Betay, pria asal Biak Papua ini jadi korban ketidakadilan PSSI, ia diberi sanksi 1 tahun tidak boleh aktif dalam persepakbolaan nasional. Sing sendiri sekarang hanya menyesali nasib, "Padahal saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya mencoba melerai perkelahian pemain ", kata SIng dengan nada pasrah. Toh Sing sendiri tak terlalu risau lantaran klub Arema siap menjamin masa depan Sing, "Sing akan tetap menjadi asisten pelatih, dia hanya tidak diperbolehkan mendampingi tim di pinggir lapangan ", kata Iwan Budianto sang manager. Iwan juga akan mengajukan banding atas keputusan yang dibuat PSSI, menurut Iwan keputusan itu terlalu semena-mena karena diputuskan secara sepihak dan tidak memanggil Sing untuk mendengar keterangannya.

Berbeda dengan Sing, Iwan Budianto mengakui bahwa ia tidak akan membantu AGus Setiawan atas skorsing selama 6 bulan, menurut Iwan Agus memang bersalah, "Agus memang tak memukul duluan, tapi seharusnya ia jangan menghampiri Aples, itu sama saja menantang ", kata Iwan. Selain itu menurut Iwan Budianto, Agus diharuskan membayar sendiri sanksi sebesar 1,75 juta rupiah. Menurut Iwan karena sikap Agus itu merugikan Arema.

Agus Setiawan sendiri tak banyak bicara, ia hanya pasrah,"Mungkin saya sudah diincar komdis karena kasus Bambang Pamungkas ", kata Agus Setiawan.

Aples Tecuari mengakui bahwa ia bersalah dalam kasus keributan di Cilegon, untuk itu ia meminta maaf secara tulus kepada para pengurus dan pemain Arema, terutama Agus Setiawan. [AC]


13 April 2002 - 04:58
Cerita Singkat Arema
Cerita Singkat Arema selama di Jakarta

Agus Setiawan sekarang sedang disorot media massa setelah ‘menggasak’ striker tim nasional Bambang Pamungkas pada pertandingan Persija vs Arema di stadion Lebak Bulus beberapa waktu yang lalu. Agus yang akrab dipanggil Aa’ ini mengaku tak punya niat mencederai Bambang. “Itu Cuma reflek saja, saya lihat posisinya berdiri bebas dan berbahaya, saya tak dengar peluit wasit “, kata Agus yang mengaku sudah minta maaf pada Bambang.

Kondisi keuangan Arema yang kembang kempis membuat skuad Arema tak bisa menginap di hotel daerah Cilegon menjelang pertandingan Pelita KS kontra Arema tanggal 14 April nanti. Tingginya harga sewa hotel di daerah Cilegon membuat Arema harus ‘mengungsi’ ke Jakarta dengan alasan harga hotel di Jakarta lebih murah. Selain itu official Arema punya alasan lain, Jakarta punya banyak alternatif tempat untuk berjalan-jalan. Tak heran walaupun cukup lama di Jakarta para pemain Arema tak terlalu bosan karena setiap hari selalu ‘ngelencer’ keliling Jakarta. Rombongan Arema baru berangkat menuju Cilegon pada hari Jum’at pagi tanggal 12 April 2002.

Apa yang dilakukan pemain Arema ketika berada di Jakarta ??, yang pasti jalan-jalan ke Mall. Tapi sebagian pemain justru tak lari ke Pusat Perbelanjaan yang megah. Mereka malah jalan-jalan ke Taman Puring yang terkenal dengan barang-barang bekas. Yang jadi komandan adalah Joko Susilo. Barang-barang yang dibeli para pemain tak lain bermacam-macam, mulai dari baju, sepatu, san sandal. Malam hari pun dilalui pemain dengan santai, nongkrong di café dan pub, main bilyar, bahkan ke diskotik.

Siapa pemain yang paling homesick selama tur Jakarta-Lampung-Cilegon ?. Ia adalah Nanang Supriyadi, resahnya pun beralasan. Istrinya yang tercinta kini sedang mengandung dan sudah memasuki bulan ke 9. Nanang mengaku ingin cepat pulang ke Malang dan menemani istrinya dalam proses kelahiran. “Saya hanya berdoa supaya jabang bayi jangan ‘mbrojol’ dulu dan menunggu kepulangan saya “, kata Nanang. Segenap kru Aremaniacyber.com ikut mendoakan agar Nanang Supriyadi Jr selamat bersama ibunya dalam proses kelahiran.

Masih ingat Harianto ??, pemain yang musim lalu terkena skorsing 1 tahun setelah memukul kiper Persema dalam derby maut tahun lalu. Pemain yang akrab dipanggil Sapari ini ternyata menginap di hotel yang sama dengan Arema. Usut punya usut pemain yang kini membela Persik Kediri ini baru saja dipanggil komisi Disiplin PSSI akibat kasus rebutan GPD vs Persik. Harianto sendiri tak langsung pulang karena hari Minggu nanti Persik akan menantang PSJS Jakarta Selatan di stadion Lebak Bulus.

Harianto alias Sapari mengaku bahwa ia sebenarnya sangat kangen membela Arema. Kerinduan Sapari tak lain dan tak bukan ditujukan kepada Aremania. Menurut Sapari dukungan Aremania selalu membuatnya tampil penuh semangat dilapangan.

Bagaimana bila Harianto dan Agus Setiawan bertemu ?, Musim lalu Harianto yang berbaju Arema memukul Agus Setiawan yang kala itu membela Persema. Pemukulan itu membuat Harianto alias Sapari diskors 1 tahun. Kedua pemain yang bertemu di Hotel Indra Internasional Jakarta ternyata berjalan baik, tak ada nuansa dendam atau permusuhan. Bahkan keduanya saling melempar canda dan berbicara akrab. Tapi dasar usil, ketika keduanya asyik ngobrol saat makan malam, beberapa pemain Arema menyindir keduanya, “Hati-hati Gus, nanti kamu dipukul lagi !!”

Mengapa Miftakul Huda dipanggil Embik ???, jawabannya ada pada jenggot. Jenggot di dagu pemain asal Sidoarjo ini memang dibiarkan tumbuh memanjang dan terkesan seperti jenggot kambing. Tak heran ia pun dipanggil Embik oleh rekan-rekan satu timnya. Miftakul sendiri tak ambil pusing dengan julukan itu, ia punya alasan bahwa menumbuhkan jenggot merupakan sunnah nabi Muhammad SAW. [AC]

Refleksi 23 Tahun Arema(5)

Memori Liga Galatama 1992/1993
Sumber : www.aremaniacyber.com


PROLOG
Ada satu pesan khusus Acub Zainal kepada putranya, Ir Lucky Adrianda Zainal, ketika mendirikan Arema di Malang, 11 Agustus 1987. “Luck, Papimu ingin klub ini suatu saat harus menjadi juara Galatama, dengan demikian tidaklah sia-sia segala perjuangan dan upaya kita mendirikan klub ini “, pesan Sang Jenderal.
Sekilas, pesan itu memang amat singkat tetapi selalu membekas dan tergiang-ngiang di telinga Lucky. Setelah 6 tahun mengikuti kompetisi Galatama akhirnya, amanat sesepuh Arema itu akhirnya terwujud. Dengan perjuangan yang berliku-liku akhirnya Arema mampu menjadi klub sepakbola pertama di Malang yang menjadi juara Indonesia lewat kompetisi Liga Non Amatir, Kompetisi Galatama XII. Dan Lucky yang saat itu menjadi Ketua Umum mampu mewujudkan impian sang jenderal.

Tidak ada yang menyangka Arema akan mampu menjadi juara saat itu. Mengingat Arema hanyalah klub kecil yang mempunyai materi pemain yang diawal musim dianggap pas-pasan dan tidak semegah klub-klub lain, bandingkan dengan Pelita Jaya yang didukung oleh Nirwan Bakrie atau Mitra Surabaya, Assyabaab yang diback up Salim Group, Petrokimia Putra-PKT-Semen Padang yang didukung BUMN, atau Barito Putra yang saat itu didukung Prayogo Pangestu lewat Barito Pasific, Arema hanya klub yang didukung sponsor Toyo Menka dengan nilai sponsorship Rp.86 juta setahun dan praktis hanya mengandalkan uang pemasukan tiket sebagai dana operasional. Tapi Arema mampu mewujudkan mimpi Sang Jenderal. Bahkan andaikata Arema mampu memenangkan pertandingan melawan PKT di kandang maka juaranya Arema waktu itu menorehkan tinta emas karena juara dengan menyisakan 3 pertandingan. Sayangnya pertandingan melawan PKT berakhir imbang 0-0 di Gajayana. Padahal saat itu pesta pernisbatan Arema sebagai kampiun sudah disiapkan besar-besaran.


LIKA LIKU

Siapa pun tidak akan menduga, Ebes Arema Sugiyono mundur di tengah jalan ketika Arema sedang berada di peringkat kedua klasemen. Tak hanya Ebes, Hadi Soeroto sang manajer dan mantan ketua umum Arema juga mundur sebelum Ebes lengser dari posisinya sebagai Ketua Umum. Di tengah kompetisi, M.Basri juga mundur sebagai pelatih dan digantikan Gusnul Yakin. Ebes, mundur justru disaat Arema sedang berkibar. Ketika diwawancarai oleh wartawan setelah dia mundur. Ebes berkilah bahwa pengunduran dirinya semata-mata karena ‘lengser keprabon’ dan ingin menikmati masa tuanya. Selain itu kesibukannya saat itu sebagai ketua Yayasan Universitas Merdeka Malang juga menjadi alasan. Tapi dibalik alasan-alasan itu, Ebes ternyata punya alasan khusus.

“Sebetulnya saya telah berhasil mencetak kader, dia adalah Lucky Zainal “, Ebes memisalkan pengunduran dirinya ini secara filosofis, ibarat orang tua dirinya tidak akan terus-terusan mendampingi anaknya yang telah dewasa. Dan anak itu adalah Lucky Zainal. Lucky sebelumnya memang buta sama sekali dengan sepakbola. Ia lebih dikenal sebagai seorang pembalap daripada seorang yang gila bola. Dengan didikan Ebes, Lucky akhirnya dikenal sebagai orang yang gibol alias gila bola. Tapi saat itu rumor yang berkembang, mundurnya Ebes dikarenakan konflik internal dalam tubuh manajemen Arema. Tapi rumor itu dibantah oleh Lucky dan Ebes. “Saya dan Ebes tidak ada masalah, malah saya sedih sekali karena surat pengunduran diri Ebes datangnya mendadak, tapi tanpa Ebes bagaimana pun Arema harus jalan terus “, kata Lucky. Bahkan Lucky sendiri tak rela Ebes mundur dan mencoba membujuk Ebes untuk kembali, sayangnya Ebes Sugiyono tetap pada pendiriannya dan walaupun ada dalam struktur manajemen tetapi hanyalah dalam posisi sebagai penasehat.


“Posisi yang pantas bagi orang tua dengan anak yang sudah dewasa “, akhirnya dengan keputusan ini, Lucky akhirnya naik jabatan dari ketua harian menjadi ketua umum sekaligus manajer tim. Tidak hanya Ebes, Hadi Soeroto yang punya andil dan wewenang besar dalam tubuh manajemen Arema juga mundur dengan alasan yang jelas. Ia ditunjuk oleh pengurus Persema untuk memimpin Persema yang akan turun dalam kompetisi divisi utama Perserikatan. Aturan PSSI yang melarang perangkapan jabatan di 2 klub membuat Hadi Soeroto yang juga pernah mengurus Persebaya itu akhirnya lebih memilih Persema. Konon Hadi lebih memilih Persema karena saat itu ia adalah kepala DPUD Malang, dan sudah tidak aneh lagi bila Persema mempunyai pemimpin dari kalangan Muspida. Tak hanya itu, pengunduran diri M.Basri sang pelatih di akhir putaran pertama adalah hal yang paling kontroversial. M.Basri mundur dengan alasan ‘ingin dekat dengan keluarga di Surabaya’ lebih diartikan karena M.Basri tergiur tawaran Mitra Surabaya (reinkarnasi Niac Mitra yang pernah membesarkan nama Basri). Hengkangnya Basri ini lebih karena ketua Umum Mitra Surabaya Dahlan Iskan yang pusing melihat prestasi Mitra Surabaya yang terpuruk di papan bawah. Dan penuh sindiran, pengurus Arema mengatakan bahwa keberhasilan Arema menduduki peringkat kedua klasemen di putaran pertama membuat Mitra Surabaya cemburu dan berniat menggembosi Arema.


SANKSI DEMI SANKSI

Sungguh, dalam sepakbola Indonesia. Wasit adalah salah satu dari setumpuk masalah. Salah satunya ketika Arema menghadapi Pelita Jaya di Lebak Bulus pada Januari 1991. Keputusan wasit yang controversial membuat official Arema saat itu berang. Bahkan manajer Arema Lucky AZ akhirnya harus menerima sanksi tidak boleh mendampingi tim selama satu tahun. Basri dan kapten tim Jamrawi bahkan harus menerima sanksi hukuman percobaan selama 6 bulan. Kericuhan demi kericuhan pun dilalui satu demi satu oleh SIngo Edan. Kala menjamu Medan Jaya pada tanggal 24 September 1992, kericuhan terjadi ketika Marsaid berhasil membobol gawang Medan Jaya dan dinilai offside oleh pemain Medan Jaya. Juga ketika Arema berhasil mendapat penalty setelah Darwin Pandiangan offside di daerah terlarang. Penalti yang dieksekusi Singgih Pitono pun menjebol gawang, tapi aksi dorong mendorong wasit dan antar pemain pun terus berlangsung. Saat pertandingan dilanjutkan pun permainan menjadi kacau karena Medan Jaya yang saat itu dikapteni Iwan Karo-karo bermain menjurus kasar. Bahkan sampai-sampai pelatih kedua tim Basri dan Husni Effendi mengumpulkan pemain agar saling menahan diri. Kericuhan dalam pertandingan ini dikecam Administratur Liga Ismet Tahir.

Kericuhan kembali terjadi saat Arema menjamu Semen Padang, pada tanggal 27 September 1992. Sumber kericuhan kembali karena ulah wasit (saat itu dipimpin Sujendro) yang plin-plan dalam mengambil keputusan. Pertandingan bahkan dihentikan pada menit ke 86. Peristiwa itu bermula ketika Sujendro meniup peluit dan menunjuk titik penalty pada kedudukan 1-1 karena bek kanan Semen Padang Abdul Aziz menyentuh bola saat duel dengan kiri luar Arema Jonathan. Selagi pemain Arema berpelukan menyambut hadiah penalty. Sekitar 15 ribu penonton melihat bagaimana wasit Sujendro dipukuli, ditendangi, didorong-dorong bahkan sampai dicekik pemain Semen Padang. Pertandingan sempat dihentikan 10 menit. Anehnya Sujendro kemudian mengubah hukuman pinalti menjadi tendangan bebas, kontan Arema yang ganti melakukan protes. Sujendro pun kembali memberikan hadiah penalty. Dan hal ini membuat Semen Padang enggan meneruskan pertandingan. Dan pertandingan pun dihentikan pada menit 86, detik 48.


Keesokan harinya pada hari Senin, Arema mengirim surat protes plus kuitansi uang protes Rp.75.000 rupiah. Intinya, Arema protes karena ulah pemain Semen Padang yang tidak mau meneruskan pertandingan, dan meminta Semen Padang ditindak sesuai aturan. Hasilnya, Arema mendapat tambahan 3 poin plus tambahan 5 gol, sedang Semen Padang dikurangi 2 poin. Arema pun sempat menjalani partai usiran di stadion Mandala Krida ketika menjamu Barito Putra karena kericuhan yang terjadi ketika menjadi tuan rumah melawan Gelora Dewata. Keributan dalam partai panas itu melibatkan pemain, bahkan official kedua kesebelasan, terutama kepada wasit Roesito yang memimpin pertandingan. Arema sendiri memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Lucky, sang ketua umum menerima faksimili dengan raut kepedihan menanggapi surat keputusan Komdis Liga. Yang membuat Arema harus kehilangan uang pendapatan tiket 25 juta karena sanksi.


PERJALANAN SEMUSIM

Dalam kompetisi Galatama XII, Arema mendulang sukses sebagai satu-satunya tim yang tak terkalahkan di kandang. Rekaman pertandingannya antara lain, selama putaran pertama mampu menyapu bersih 9 partai ( 3-0 vs Medan Jaya, 6-1 vs Semen Padang, 2-1 vs Aceh Putra, 1-0 vs Petrokimia Putra, 2-1 vs Gelora Dewata, 1-0 vs Warna Agung, 2-0 vs Barito Putra, 2-1 vs Pelita Jaya, 2-1 vs Bandung Raya).

Sedangkan di putaran kedua mampu menang 4 kali yaitu 1-0 vs BPD jateng, 1-0 vs Putra Samarinda, 2-0 vs Putra Mahakam, dan 2-0 vs Mitra Surabaya). Sisa pertandingan yang berakhir imbang antara lain vs Arseto 1-1, vs ASGS dan PKT berakhir sama kuat 0-0.


Tak hanya itu, selain juara. Arema juga mampu mengantarkan Arek Ngunut Singgih Pitono menjadi top skor dengan 15 gol. Sebuah prestasi yang membanggakan.

DETIK DETIK
Penghujung Juli 1993, tepatnya tanggal 29 Juli 1993. Masyarakat Malang menunggu dengan harap-harap cemas pertandingan di seberang lautan tepatnya di kota Banjarmasin ketika tuan rumah Barito Putra menjamu tamunya Pupuk Kaltim. Kecemasan itu menjadi sorak sorai ketika Barito mengandaskan tamunya yang juga pesaing terdekat Arema di klasemen, Pupuk Kaltim dengan skor 1-0. Dengan hasil ini perolehan poin Arema tidak akan terkejar lagi oleh pesaing-pesaingnya.

Kekalahan Pupuk Kaltim ibarat ‘berkah dari surga’ bagi Arema. Setelah gagal mewujudkan pesta juara di kandang karena ditahan imbang PKT 0-0. Pesta selanjutnya yang seharusnya digelar juga kandas karena partai selanjutnya Arema kalah 1-2 di Banjarmasin oleh Barito Putra. Seandainya pun pertandingan Barito Putra melawan PKT berakhir imbang atau PKT menang. Arema masih memiliki peluang juara asalkan memenangkan pertandingan terakhir melawan Mitra Surabaya di Malang.


Tak heran, berita juaranya Arema ini disambut suka cita oleh masyarakat Malang di segenap lapisan, tak hanya di kota Malang, komunitas ‘Arema’ diluar Malang pun menyambut kemenangan ini dengan suka cita. Masyarakat yang tak percaya menelepon semua perwakilan media cetak di Malang menanyakan kebenarannya. Dan mimpi pun menjadi kenyataan. Pertandingan terakhir Arema melawan Mitra Surabaya walaupun tidak menentukan lagi disambut antusias oleh Masyarakat. Gajayana membludak, stadion berubah menjadi lautan biru. Atribut berbau Singo Edan terpancang dipenjuru kota.


Dan prosesi wisuda juara Arema akhirnya mencapai puncak ketika di depan public yang sedang bersuka cita, dengan 2 gol tanpa balas yang dilesakkan Singgih dan Dominggus mampu mengandaskan Mitra Surabaya yang ironisnya saat itu dilatih pelatih Arema waktu putaran pertama, M.BAsri. Arema, bagaikan sekrup kecil dalam mesin sepakbola Indonesia. Kecil dan hampir tidak diperhitungkan. Namun memiliki 3 kekuatan utama, fanatisme, kekompakan, dan semangat yang tak kunjung padam. 3 hal yang dimiliki oleh pemain maupun suporternya.
BONUS
Begitu juara, pemain langsung banjir bonus. Walikota Malang langsung memberikan hadiah 3,5 juta uang muka perumahan Buring yang saat itu sedang marak-maraknya. Bahkan waktu itu 2 fraksi di DPRD yaitu FPP dan FPDI mendesak kepada eksekutif agar bonus pemain dimasukkan dalam APBD. 2 wakil ketua DPRD saat itu Wiluyo Sutopo dan H mahmud Alawi adalah tokoh yang paling mengusulkan bonus itu.

Dan hal itu pun langsung di tanggapi oleh H Mas Sumarto, ketua DPRD yang akhirnya menyetujui usulan pemberian bonus lewat APBD dan memberikan izin kepada walikota untuk memasukkannya dalam anggaran.


“Arema adalah milik masyarakat Malang, maka wajar bila kemenangan Arema harus diberikan penghargaan, mereka berjuang untuk kehormatan kota ini “, kata Sumarto. Tak hanya rumah, konon bonus dari pengusaha Malang mencapai nilai 200 juta. Suatu jumlah yang saat itu tidak sedikit.
PESTA KEMENANGAN
Pawai kemenangan usai Arema bertanding melawan Mitra Surabaya akhirnya mencapai puncak setelah piala Wapres yang disematkan Menpora saat itu Hayono Isman dan ketua Umum PSSI Azwar Anas kepada Arema. Kegembiraan Arema ini sebelumnya juga sampai ke jalan-jalan karena piala Wapres di kirab keliling kota.

Satu demi satu medali emas dikalungkan mulai dari kapten tim Imam Hambali sampai SInggih Pitono. Nama yang terakhir ini semakin istimewa karena ia mampu meraih sepatu emas dari torehan 15 golnya sebagai pencetak gol terbanyak.
SIAPA DIBALIK LAYAR
Pelatih Arema di putaran pertama ini adalah salah satu sosok penting dibalik juaranya Arema, walaupun mengundurkan diri selepas putaran pertama. Tetapi basic permainan yang ditanamkan olehnya tetap tersisa. Dengan gaya Inggrisnya Basri mampu meracik permainan memikat pola 4-4-2 khas Inggris.

Dan yang membuat Basri mudah bekerja adalah budaya yang melekat dalam tim Arema. “Saya tidak pernah melatih tim seperti Arema, fanatisme, kekompakan, dan semangatnya luar biasa “, kata Basri sesaat setelah tim asuhannya Mitra Surabaya dikalahkan Arema di akhir kompetisi. Hal ini yang membuat Arema menjadi tim yang sulit di kalahkan di kandang, dan menjadi momok yang menakutkan di luar kandang.


Tidak hanya itu, motivasi yang tinggi ditambah semangat pantang mundur ini yang membuat Arema menjadi tim yang disegani. “Keras, militan, determinasi tinggi, itulah Arema “, ungkap Basri. Tak heran, budaya Arema inilah yang membuat Basri dengan mudah menerapkan strategi ala Inggrisnya. Walaupun dianggap berjasa, Basri juga pernah menorehkan kenangan pahit yang tak mudah dilupakan. Orang ingat bagaimana pelatih asal Sulawesi Selatan ini meninggalkan tim Arema di akhir putaran pertama.


Dan yang membuat Arema kian terluka adalah bagaimana Basri meninggalkan Arema untuk melatih tim Mitra Surabaya, tim yang notabene adalah saudara tua sekaligus musuh bebuyutan Arema. “Di klub lain kepuasan non materi sulit dicari “, kilah Basri. Basri pun menambahkan bahwa dirinya sudah puas dengan apa yang ditorehnya di Arema. Dan ia pun menolak bila ukuran profesionalismenya diukur dengan uang, walaupun fakta membuktikan bahwa ia menerima tawaran Mitra yang lebih tinggi penawaran gajinya daripada di Arema. Tak heran, keputusan Basri untuk hengkang dikecam banyak pihak. Ebes Sugiyono sendiri mengecam keputusan Basri yang dianggap tidak sesuai dengan reputasinya.
Gusnul Yakin :

Arek Malang asli ini ditunjuk menjadi penerus pasca hengkangnya M.Basri. Ditunjukknya pelatih yang pernah berguru di Belanda pada Rinus Michel ini konon langsung diserang berbagai macam kontroversi dan suara sumbang. Ia dianggap masih ‘hijau’ dan belum layak menjadi ‘dirigen’ sebuah tim. “Saya waktu itu memang masih hijau, orang masih menganggap kualitas saya di bawah Basri dan bahkan memprediksi Arema akan jatuh di tangan saya “, kata Gusnul. Tapi Gusnul akhirnya membuktikan bahwa prediksi-prediksi itu salah. Buktinya, Gusnul mampu membawa Arema ke puncak jawara Galatama. Toh selepas Arema juara, gusnul masih tetap diremehkan, Gusnul hanya dianggap mengadaptasi pola permainan Basri. Tapi pelatih yang satu ini tetap tenang, tak perduli apa kata orang. “Bagi saya yang terpenting fakta, di tangan saya Arema juara, bukan di tangan Basri “,
Lucky Adrianda Zainal :

Air mata haru menetes ketika mengetahui Arema juara. Amanat sang ‘jenderal’ yang juga ayahandanya Acub Zainal berhasil di wujudkan. Lengsernya sang guru Ebes Sugiyono juga dibuktikan dengan hadiah piala wapres. “Saya banyak hutang pada Papi (Acub Zainal) dan Ebes, keduanya adalah mentor saya dan mereka berharap banyak pada saya, tak heran ketika tahu Arema juara saya senangnya bukan main, bahkan sampai nangis segala “, kenang Lucky. Lucky tahu benar, bagaimana ia yang dulunya ‘hijau’ soal bola akhirnya menjadi orang yang gila bola. Lucky adalah salah satu pilar penting dalam manajemen Arema saat itu, walaupun dinodai dengan masa 1 tahun skorsingnya akibat mencabut bendera pojok ketika Arema bertandang ke Pelita Jaya di Lebak Bulus. Ia adalah sosok yang dekat dengan semua kalangan, tidak sombong, dan enak diajak berbicara. Ia juga pandai memotivasi pemain.
Ovan Tobing :

Manajer Arema saat Lucky menjalani skorsing ini adalah orang yang paling dekat dengan pemain. Ia mampu memompa semangat pemain, dengan kata-katanya yang menggelegar. Ia pun satu-satunya orang yang mampu mendinginkan suasana stadion ketika sedang panas. Tak hanya menjalani manajerial Arema secara tim. Ovan juga dikenal sebagai orang yang rajin mencari pemain-pemain berbakat. Sebut saja Singgih Pitono yang ditemukannya ketika turun ke desa-desa mencari pemain berbakat. Pria Batak berambut gondrong yang sudah menjadi AREMA ini memang dikenal orang yang sangat serius ketika bertugas.

REVIEW
GALATAMA 92-93

SKUAD PEMAIN
Posisi Nama
P Singgih Pitono
G Kuncoro
B Aji Santoso
B Imam Hambali
B Jamrawi
B Harry Siswanto
G Dominggus N.
G Mahmudiana
P Micky Tata
G Jonathan
P Joko Susilo
G Maryanto
G Agus Yuwono
G Panus Korwa
G Andik
K Sukriyan
G Marsaid
B Agus Purwanto
K Nanang Hidayat

K = Kiper
B = Back
G = Gelandang
P = Penyerang

Kamis, 29 Juli 1993, diseberang lautan tepatnya di kota Banjarmasin tengah bertanding dua klub yang berasal dari pulau Kalimantan, Barito Putra melawan Pupuk Kaltim. Begitu wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai dengan hasil barito unggul 1-0 atas tamunya, bersoraklah para peman, pengurus dan juga suporter Arema (saat itu belum dikenal Aremania). Memang, pertandingan yang terjadi menjelang kompetisi Galatama 1992/1993 itu memang diharapkan berakhir dengan kemenangan tuan rumah, sebab jika Pupuk Kaltim kalah maka mereka tidak akan mampu lagi mengejar nilai yang diperoleh Arema di klasemen sementara, artinya Singo Edan untuk pertama kalinya jadi juara Galatama.

Kegembiraan meledak, pengurus dan pemain saling berpelukan dan bertangisan haru. Tak kalah serunya para suporter juga melampiaskan kegembiraan dengan cara mereka sendiri. Setelah mengikuti enam musim kompetisi sejak kompetisi musim VIII 1997/1998 akhirnya Arema mampu jadi kampiun di Indonesia. Mereka membuktikan mampu unggul atau klub-klub kuat saat itu seperti Pupuk Kaltim, Pelita Jaya, maupun Mitra Surabaya.

Sukses itu semakin lengkap setelah Singgih Pitono kembali mampu memuncaki tangga pencetak gol terbanyak, dengan 15 gol. Arema juga mencatat tak terkalahkan dalam 16 kali pertandingan kandang, dengan 13 kali menang dan hanya 3 kali seri. Yang istimewa juga saat Arema memastikan diri jadi juara, Arema masih punya 3 pertandingan sisa. Hal ini pun masih menjadi rekor hingga saat ini.
Dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, Arema mampu menembus mitos bahwa hanya klub-klub kaya yang mampu menjadi juara di Indonesia. Arema memang dari segi pendanaan bisa dibilang klub ‘miskin’, tapi Arema punya satu kekuatan yang tak dipunyai oleh klub lain, kekompakan. Memang kekompakan antara pengurus dan pemain sangat kuat, kebersamaan di Arema sangat kental.

Apalagi peran Lucky A.Zainal dan manajer tim Ovan Tobing harus diakui sangat penting, mereka menjadi motivator bagi pemain.
Perjalanan Arema dimusim Galatama XII 1992/1993 memang penuh liku-liku, tak ada lagi nama-nama seperti pemain nasional Pra Olimpiade 1991 Pudji Purnawan yang pindah ke Gelora Dewata atau Lulut Kistono yang hijrah ke Mitra Surabaya. Namun itu tak membuat Arema jadi macan ompong, Kuncoro kian matang sebagai pemain muda kala itu bahu membahu memperkuat sektor pertahanan dengan Aji Santoso, Imam Hambali dan Jamrawi. Gelandang Arema pun tak kalah greget, Harry ‘Hunter’ Siswanto, Dominggus Nowenik dan Mahmudiana bermain konsisten sepanjang musim. Belum lagi duet striker maut Micky Tata dan Singgih Pitono yang ditakuti oleh pemain belakang lawan. Pelapis macam Joko Susilo dan Maryanto pun siap menggebrak dan tak kalah kualitas. Dengan komposisi solid, di putaran pertama Arema mampu menyapu bersih 9 pertandingan kandang dengan kemenangan.

Ada beberapa hal yang agak mengganggu perjalanan Arema di musim Galatama XII ini, diakhir putaran pertama pelatih M.Basri tiba-tiba mengundurkan diri. Untungnya pelatih yang baru Gusnul Yakin secara meyakinkan melanjutkan rintisan Basri dengan membawa Arema menjadi juara. Di saat menjelang akhir kompetisi pun Arema kembali digoncang dengan mundurnya ‘Ebes’ Sugiyono dari ketua harian Yayasan Arema dan lebih memilih posisi penasehat, juga lebih memilih mengurus Persema yang saat itu berjuang untuk naik ke Divisi Utama Perserikatan.

Badai-badai itu dilalui dengan kebersamaan dan kekompakan. Pada tanggal 20 dan 21 Agustus 1993 Arema dan segenap warga kota Malang berpesta dengan kirab keliling kota, dan puncaknya pada tanggal 21 Agustus 1993 ketika Menpora saat itu Hayono Isman mengalungkan medali emas dan menyerahkan piala Wakil Presiden di Gajayana sebagai akhir musim yang manis bagi Arema.

Monday, August 23, 2010

Refleksi 23 Tahun Arema(4)

Data Klasemen untuk Arema di Divisi Utama 1994-2008 - Babak Penyisihan/Preliminary Round
Liga Indonesia 1 ---> 32 15 7 10 44-41 52 (peringkat 6)
Liga Indonesia 2 ---> 30 8 11 11 19-25 35 (peringkat 12)
Liga Indonesia 3 ---> 20 10 5 5 26-20 35 (peringkat 3)
Liga Indonesia 4 ---> 14 4 6 4 9- 9 18 (peringkat 6)
Liga Indonesia 5 ---> 10 4 3 3 10- 6 15 (peringkat 3)
Liga Indonesia 6 ---> 26 14 5 7 31-18 47 (peringkat 2)
Liga Indonesia 7 ---> 25 14 4 7 29-23 46 (peringkat 3)
Liga Indonesia 8 ---> 22 11 5 6 31-25 38 (peringkat 2)
Liga Indonesia 9 ---> 38 11 11 16 39-59 44 (peringkat 17)
Liga Indonesia11 ---> 26 13 7 6 42-20 46 (peringkat 2)
Liga Indonesia12 ---> 26 13 8 5 39-17 47 (peringkat 1)
Liga Indonesia13 ---> 34 15 12 7 45-28 57 (peringkat 4)

Jumlah Pertandingan = 303
Jumlah Menang = 132
Jumlah Seri = 84
Jumlah Kalah = 87
Memasukkan Gol = 364
Kemasukan Gol = 291
Jumlah Poin = 480
Persentase Kemenangan = 43.56%
Persentase Seri = 27.72%
Persentase Kalah = 28.71%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 1.20
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 0.96
Rata-rata poin tiap pertandingan = 1.58


Data Klasemen untuk Arema di Divisi Utama 1994-2008 - Babak 8/12 Besar

Liga Indonesia III ---> 3 1 0 2 4-5 3 (Peringkat 3)
Liga Indonesia VI ---> 3 1 1 1 3-5 4 (Peringkat 3)
Liga Indonesia VII ---> 3 0 0 3 2-9 0 (Peringkat 4)
Liga Indonesia VIII ---> 3 1 0 2 1-4 3 (Peringkat 4)
Liga Indonesia XI ---> 3 0 1 2 0-3 1 (Peringkat 4)
Liga Indonesia XII ---> 3 1 0 2 3-2 3 (Peringkat 3)
Liga Indonesia XIII ---> 3 1 1 1 3-4 4 (Peringkat 3)

Jumlah Pertandingan = 21
Jumlah Menang = 5
Jumlah Seri = 3
Jumlah Kalah = 13
Memasukkan Gol = 16
Kemasukan Gol = 32
Total Poin = 18
Persentase Kemenangan = 23.8%
Persentase Seri = 14.28%
Persentase Kalah = 61.9%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 0.76
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 1.52
Rata-rata poin tiap pertandingan = 0.86


Statistik Arema di Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia I - XIII

Jumlah Pertandingan = 324
Jumlah Menang = 137
Jumlah Seri = 87
Jumlah Kalah = 100
Memasukkan Gol = 380
Kemasukan Gol = 323
Total Poin = 498
Persentase Kemenangan = 42.28%
Persentase Seri = 26.85%
Persentase Kalah = 30.86%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 1.17
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 0.99
Rata-rata poin tiap pertandingan = 1.54


Statistik Arema di ISL 2008-2010

Jumlah Pertandingan = 68
Jumlah Menang = 36
Jumlah Seri = 12
Jumlah Kalah = 20
Memasukkan Gol = 97
Kemasukan Gol = 64
Total Poin = 120
Persentase Kemenangan = 52.94%
Persentase Seri = 17.64%
Persentase Kalah = 29.41%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 1.51
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 0.94
Rata-rata poin tiap pertandingan = 1.76

Statistik Arema di Strata I Liga Indonesia(Divisi Utama 1994-2008 ditambah ISL 2008-2010)

Jumlah Pertandingan = 392
Jumlah Menang = 173
Jumlah Seri = 99
Jumlah Kalah = 120
Memasukkan Gol = 477
Kemasukan Gol = 387
Total Poin = 618
Persentase Kemenangan = 44.13%
Persentase Seri = 25.25%
Persentase Kalah = 30.61%
Rata-rata memasukkan gol tiap pertandingan = 1.21
Rata-rata kemasukan gol tiap pertandingan = 0.98
Rata-rata poin tiap pertandingan = 1.58


Bonus : Klasemen Akhir Kontestan Liga Indonesia I - XII di Divisi Utama
1. PSM Makassar 371 pertandingan 657 poin
2. Persija Jakarta 363 pertandingan 565 poin
3. Persib Bandung 349 pertandingan 535 poin
4. Persipura Jayapura 358 pertandingan 542 poin
5. Pupuk Kaltim 354 pertandingan 514 poin
6. Pelita Jaya 325 pertandingan 503 poin
7. Arema Malang 324 pertandingan 498 poin
8. PSMS Medan 321 pertandingan 473 poin
9. Persita Tangerang 320 pertandingan 471 poin
10. Semen Padang 345 pertandingan 468 poin
11. Deltras Sidoarjo(d/h Gelora Dewata) 345 pertandingan 466 poin
12. Persebaya Surabaya 289 pertandingan 465 poin
13. PSIS Semarang 327 pertandingan 449 poin
14. Sriwijaya FC (d/h Persijatim) 319 pertandingan 403 poin
15. Persikota Tangerang 265 pertandingan 377 poin
16. PSDS Deli Serdang 303 pertandingan 361 poin
17. Gresik United(d/h Petrokimia Putra) 255 pertandingan 360 poin
18. Persema Malang 264 pertandingan 336 poin
19. Barito Putra 231 pertandingan 306 poin
20. Persik Kediri 169 pertandingan 279 poin
21. PSS Sleman 205 pertandingan 273 poin
22. Persiba Balikpapan 196 pertandingan 251 poin
23. Persiraja Banda Aceh 194 pertandingan 249 poin
24. PSPS Pekanbaru 172 pertandingan 238 poin
25. Persma Manado 163 pertandingan 201 poin
26. Persisam putra(d/h Putra Samarinda) 149 pertandingan 198 poin
27. Bandung Raya 93 pertandingan 192 poin
28. Mitra Kukar (d/h Mitra Surabaya) 105 pertandingan 168 poin
29. Persikab Bandung 150 pertandingan 163 poin
30. Medan Jaya 134 pertandingan 151 poin
xx. Persiwa 63 pertandingan 101 poin

Klasemen ISL 2008-2010
1.Persipura (Jayapura) 68 pertandingan 147 poin
2.Arema (Malang) 68 pertandingan 120 poin
3.Persib Maung (Bandung) 68 pertandingan 119 poin
4.Persiwa (Wamena) 68 pertandingan 116 poin
5.Persija (Jakarta) 68 pertandingan 105 poin
6.Sriwijaya FC (Palembang) 68 pertandingan 102 poin
7.Persiba (Balikpapan) 68 pertandingan 100 poin
8.Persela (Lamongan) 68 pertandingan 96 poin
9.Persik (Kediri) 68 pertandingan 94 poin
10.PSM (Makassar) 68 pertandingan 94 poin
11.Persijap (Jepara) 68 pertandingan 92 poin
12.Pelita Jaya (Bandung) 68 pertandingan 88 poin
13.PKT (Bontang) 68 pertandingan 81 poin
14.Persitara (Jakarta Utara) 68 pertandingan 64 poin
15.PSPS (Pekanbaru) 34 pertandingan 49 poin
16.Persema (Malang) 34 pertandingan 45 poin
17.Persisam Putra (Samarinda) 34 pertandingan 44 poin
18.Persebaya (Surabaya) 34 pertandingan 36 poin
19.PSMS (Medan) 34 pertandingan 31 poin
20.Delta Putra Sidoarjo 34 pertandingan 29 poin
21.Persita (Tangerang) 34 pertandingan 25 poin
22.PSIS (Semarang) 34 pertandingan 21 poin

Klasemen Strata I Liga Indonesia(Divisi Utama 1994-2008 ditambah ISL 2008-2010)
1. PSM Makassar 439 pertandingan 751 poin
2. Persipura Jayapura 426 pertandingan 689 poin
3. Persija Jakarta 431 pertandingan 670 poin
4. Persib Bandung 417 pertandingan 654 poin
5. Arema Malang 392 pertandingan 618 poin
6. Pupuk Kaltim 422 pertandingan 595 poin
7. Pelita Jaya 393 pertandingan 591 poin
8. Sriwijaya FC (d/h Persijatim) 387 pertandingan 505 poin
9. PSMS Medan 355 pertandingan 504 poin
10. Persebaya Surabaya 323 pertandingan 501 poin
11. Persita Tangerang 354 pertandingan 496 poin
12. Deltras Sidoarjo(d/h Gelora Dewata) 379 pertandingan 495 poin
13. PSIS Semarang 361 pertandingan 470 poin
14. Semen Padang 345 pertandingan 468 poin

15. Persema Malang 298 pertandingan 381 poin16. Persikota Tangerang 265 pertandingan 377 poin
17. Persik Kediri 237 pertandingan 373 poin
18. PSDS Deli Serdang 303 pertandingan 361 poin
19. Gresik United(d/h Petrokimia Putra) 255 pertandingan 360 poin
20. Persiba Balikpapan 264 pertandingan 351 poin
21. Barito Putra 231 pertandingan 306 poin
22. PSPS Pekanbaru 206 pertandingan 287 poin
23. PSS Sleman 205 pertandingan 273 poin
24. Persiraja Banda Aceh 194 pertandingan 249 poin
25. Persisam putra(d/h Putra Samarinda) 183 pertandingan 242 poin
26. Persiwa 131 pertandingan 217 poin
27. Persma Manado 163 pertandingan 201 poin
28. Bandung Raya 93 pertandingan 192 poin
29. Mitra Kukar (d/h Mitra Surabaya) 105 pertandingan 168 poin
30. Persikab Bandung 150 pertandingan 163 poin
31. Medan Jaya 134 pertandingan 151 poin

Thursday, August 19, 2010

Refleksi 23 Tahun Arema(3)

Legenda Penjaga Gawang Arema

1. Donny Latuperissa
Awalnya Donny Latuperissa datang ke Arema sebagai kiper pinjaman. Ia sebelumnya terkena skorsing bersama Bambang Nurdiansyah sewaktu memperkuat Pelita Jaya. Begitu masa skorsingnya berakhir ia dipinjamkan ke Arema bersama Bambang Nurdiansyah. Adalah Nirwan D. Bakrie yang menjadi salah satu sponsor Arema ketika itu memberikan jasa baiknya dengan meminjamkan Donny ke Arema. Musim pertama Donny Latuperissa bersama Arema berjalan mulus. Total Arema hanya kebobolan 20 gol dari 26 pertandingan di Galatama 1987/1988. Selain penampilan apik DOnny Latuperisa, Arema juga memiliki barisan bek tangguh sehingga turut memberi rasa aman bagi gawang Arema.

2. Nanang Hidayat
Dia adalah salah satu tokoh sukses Arema ketika menjadi Juara Galatama 1992/1993. Nanang adalah penjaga gawang yang disegani tim lawannya. Bersama Libero tangguh sekaligus Kapten Arema Jamrawi dan Imam Hambali turut memberikan ketangguhan di lini belakang Arema. Di Arema, Nanang Hidayat akrab dengan nomor punggung 21.

3. Ahmad Yono
Posturnya memang cukup ideal bagi penjaga gawang Arema. TDengan tinggi hanya sekitar 175cm. Namun, untuk urusan skill ia tiada duanya. Ahmad Yono adalah tipikal kiper lincah yang dimiliki oleh Arema. Pembawaannya tenang sehingga mampu membaca arah tendangan bola pemain lawannya. Pernah terdapat suatu moment dimana Arema menghadapi ASGS di Liga Indonesia II. Di laga yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Arema, Ahmad Yono membuat penyelematan gemilang. Tendangan pemain lawan membentur tiang gawang bagian dalam Arema dan memantul kembali ke tiang gawang bagian dalam di sebelahnya. Dengan ketenangannya Ahmad Yono mampu menangkap bola dan selamatlah gawang Arema ketika itu. Liga Indonesia II menjadi akhir kiprah Ahmad Yono bersama Arema. Ahmad Yono ikut mengantarkan Arema meraih peringkat VI di Liga Indonesia I dan hanya kebobolan 25 gol dari 30 pertandingan di Liga Indonesia II. Ahmad Yono sebenarnya merupakan bagian dari kesuksesan Arema pada Galatama 1992/1993 dimana Arema menjadi juaranya. Hanya ia ketika itu menjadi cadangan Nanang Hidayat bersama Sukriyan. Ciri khas penampilan Ahmad Yono adalah celana hitam dan kaus lengan pendek warna hijau dibaluti dengan nomor punggung 1 menjadi ciri khas Ahmad Yono dan kejayaannya bersama Arema.

4. Dwi Sasmianto
Dwi Sasmianto yang sekarang menjadi pelatih kiper di zaman Robert Alberts merupakan salah satu kiper tanggung yang dimiliki oleh Arema. Posturnya memang kurang ideal, Dwi Sasmianto hanya memiliki tinggi sekitar 172cm. Namun, kiper yang beberapa musim memperkuat Persema Malang ini sangat lincah dalam urusan menjaga gawang Arema. Dwi Sasmianto unggul dalam urusan bola bawah, meski memiliki kelemahan untuk bola atas. Kiprah terakhir Dwi Sasmianto sebagai kiper Arema adalah di musim kompetisi Liga Indonesia 2002. Ia turut bermain gemilang di pertandingan kandang terakhir Arema pada penyisihan grup Liga Indonesia 2002 melawan Persikota Tangerang. Pada laga yang dimenangkan Arema dengan skor 2-0 tersebut, Dwi Sasmianto turut mengamankan jala gawang Arema dari serbuan pemain Persikota seperti Purwanto, Francis Yonga, Eppala Jordan, Rolando Koibur, Nurcholis Majid, dkk.

5. Yanuar Hermansyah
Julukannya adalah Begal dan sangat cocok untuk menggambarkan kiprahnya sebagai begal tim lawan. Yanuar adalah kiper yang cekatan dan seringkali berjibaku untuk mengamankan bola dengan keluar dari kandangnya. Meskipun begitu Arema patut berterima kasih kepadanya, karena kiprahnya seringkali membuat pemain lawan luput dalam menjebol gawang Arema. Yanuar Hermansyah adalah bagian dari kesuksesan era kepelatihan Suharno di Liga Indonesia III 1996/1997. Ketika itu Arema sukses lolos ke babak 12 besar di Ujungpandang(kini Makassar). Ketika pensiun, Yanuar Hermansyah turut serta dalam tim kepelatihan Arema U-18 di ajang Suratin Cup tahun 2007. Begal yang menjadi pelatih kiper dan tergabung dalam satu tim kepelatihan bersama Alm Setyo Budiarto dan Manager Ekoyono Hartono turut serta dalam kesuksesan Arema U-18 dalam menjuarai Suratin Cup ketika itu. Lewat polesan Begal kemudian lahir Aji Saka, kiper ketiga yang dimiliki tim senior Arema sekarang ini. Nama kiper lain yang tidak kalah hebatnya adalah Tri Windu Anggono yang sekarang bergabung dengan tim SAD Indonesia di Uruguay

6. Agung Prasetyo
Agung ditemukan manajemen Arema ketika "blusukan" ke Banyuwangi. Kiper yang pernah kuliah di Surabaya ini pernah memperkuat tim Persewangi di ajang Divisi II. Di Arema, Agung Prasetyo seringkali tampil gemilang. Ia adalah bagian kesuksesan Arema ketika menembus Babak 8 Besar di Liga Indonesia 2000 dan 2001. Agung Prasetyo sendiri bergabung dengan Arema menjelang bergulirnya Liga Indonesia 1999. Selepas membela Arema, ia sempat berpindah ke beberapa klub seperti GPD(Deltras), PKT Bontang dan Mitra Kukar. Namun, tampaknya sinarnya hanya cemerlang ketika membela Arema Malang. Terbukti dengan dukungan pemain belakang macam Kharis Yulianto, M. Ikhsan, Juan Rubio menjadikan gawang Arema sulit ditembus pemain lawan.

7. Agus Setiawan
Hanya memperkuat Arema selama semusim di Liga Indonesia 2002. Kiper yang 2 musim sebelumnya akrab membela Persema Malang ini mengawal Arema dengan garang. Meski beberapa kali absen membela Arema di musim tersebut karena cedera/skorsing, kiper dengan postur ideal bertinggi 178cm ini garang di lapangan, salah satu korbannya adalah Bambang Pamungkas yang terkena slide tackle. Hasilnya Bambang Pamungkas cedera beberapa bulan setelah terkena tackle pada laga yang berlangsung di Stadion Lebak Bulus dengan skor yang berakhir seri 2-2 antara Persija melawan Arema. Selepas membela Arema, Agus Setiawan hijrah ke klub Pelita KS.

8. Kurnia Sandy
Awalnya ia adalah penjaga gawang kedua Arema dibawah Listyanto Raharjo. Kiper Timnas Primavera ini menjadi penjaga gawang utama setelah Listyanto Raharjo mangkir dan minggat dari tim. Meski di putaran kedua harus bergantian dengan eks penjaga gawang PSM Makassar, Anshar Abdullah tidak serta merta menurunkan kemampuannya. Ia akhirnya menjadi penjaga gawang Arema di Liga Indonesia X dimana meski Arema berkutat di Divisi I Kurnia Sandy tetap menjadi penjaga gawang Arema dan sukses mengantarkan Singo Edan menjadi Kampiun di Divisi I. 2 Musim berikutnya Kurnia Sandy tetap menjadi kiper utama Arema bersaing dengan Ahmad Kurniawan dan Iskandar Silas Ohee untuk merebut 2 gelar Copa Indonesia secara beruntun dan Babak 8 Besar Liga Indonesia 2005 dan 2006. Tercatat pertandingan terakhir Kurnia Sandy bersama Arema adalah semifinal Copa Indonesia 2006 Leg kedua di Stadion Kanjuruhan Malang. Arema menang dengan skor 4-2 dan Kurnia Sandy sempat membuat blunder karena salah komunikasi bersama bek Andela Atangana yang menyebabkan Mbom Julien, playmaker PSMS membuat gol kegawang Arema.

9. Ahmad Kurniawan
Bergabung di Arema pada Liga Indonesia 2006. Kehadirannya membuat Arema memiliki barisan kiper tangguh. AK, panggilan akrabnya bersaing dengan Kurnia Sandy untuk menjadi kiper utama Arema di musim awal bergabungnya bersama Arema. AK pula yang menjadi kiper utama Arema di Final Copa Indonesia 2006 dan sukses membuat clean sheet di final melawan Persipura. Di musim berikutnya, ia mampu bersaing dengan kiper Timnas sekelas Hendro Kartiko yang beberapa kali membuat blunder. Di musim kedua dan terakhirnya bersama Arema, ia sukses mengantarkan Arema merebut posisi 8 besar Liga Indonesia 2007/2008. Kini selepas mengantarkan Semen Padang ke pentas ISL 2010/2011, AK yang sekarang berusia 31 tahun bersiap untuk memperkuat Arema di ajang ISL ketiga bersama adiknya, Kurnia Meiga Hermansyah.

10. Kurnia Meiga Hermansyah
Memiliki nama panggilan Enthong. Kiper berusia 20 tahun ini menjadi pahlawan Arema ketika menjuarai ISL musim kemarin dan Finalis Piala Indonesia 2010. Sosoknya ideal dan menjulang tinggi, namun Enthong piawai dalam bola bawah maupun atas. ia merupakan kiper yang tenang sehingga mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam menghadang serangan lawan. Kerapkali ia bertindak sebagai hero bagi timnya dan tak terhitung berapa kali clean sheet yang didapat Arema musim kemarin karena ketangguhan Enthong dibantu dengan barisan lini belakang Arema yang taktis. Predikat from Zero to Hero layak diberikan kepadanya. Musim ISL pertamanya bersama Arema, kiper yang ditemukan Arema setelah sebelumnya memperkuat Diklat Ragunan dan Persijap U-18 ini sempat memperoleh skorsing 6 bulan dari PSSI pasca insiden di Stadion Kanjuruhan ketika Arema memperkuat Bontang FC di bulan Oktober 2008. Bahkan ia harus menelan pil pahit ketika Arema kebobolan 5 gol melawan Persipura Jayapura di ajang ISL 2008/2009. Meski di putaran pertama ISL musim 2009/2010 harus berbagi tempat dengan kiper sekelas Markus Haris Maulana, namun Enthong mampu mencuri perhatian pelatih Robert Alberts. Bahkan dengan torehan lebih dari 23caps selama memperkuat Arema di ajang ISL 2009/2010 ia akhirnya terpilih sebagai Pemain Terbaik ISL 2009/2010. Sebuah rekor baru bagi pemain termuda yang memperoleh gelar ini ditambah posisinya yang "sebatas" kiper.

Nominasi lain :
Markus Haris Maulana masuk dalam catatan emas perjalanan Arema, sayangnya dimusim kemarin ia kerap absen dalam pertandingan yang dijalani Arema karena masalah fisik dan indisipliner. Alhasil, di pertengahan musim ia meninggalkan Arema dan menyerahkan tampuk kiper utama kepada Kurnia Meiga. Sementara Sukriyan adalah penjaga gawang legendaris Arema. Ia merupakan kiper paling "gemuk" jika dilihat dari postur untuk kiper Arema sepanjang masa. Sayang kehadirannya kerap menjadi ban serep kiper hebat seperti Nanang Hidayat dan Ahmad Yono. Lain dari itu ada juga nama-nama tenar yang pernah menjadi kiper Arema seperti Bambang HS, Hendrik Kotto, Anshar Abdullah, Iskandar Silas Ohee, dll.

Refleksi 23 Tahun Arema(2)

Pelatih Legenda di Arema

1. Benny Dollo
Dari sekian pelatih yang pernah memperkuat Arema, Benny Dollo termasuk yang tersukses. 3 Musim bersama Arema menghadirkan 3 piala untuk Arema. 2 Gelar Copa Indonesia dan 1 Gelar dari Juara Divisi 1 memenuhi lemari trophy yang dimiliki oleh Arema. Dengan sederet prestasinya tersebut, tak salah jika Bendol(panggilan akrab Benny Dollo) adalah pelatih tersukses yang dimiliki oleh Arema. Di masa kepelatihannya Bendol memiliki formasi andalan 3-5-2 dengan mengandalkan wing back seperti Erol FC Iba, Sonny Kurniawan hingga Alex Pulalo. Sementara di lini tengahnya, Bendol memiliki variasi pemain pada diri Joao Carlos yang kehadirannya seolah menyihir lapangan dengan umpan-umpan akuratnya, Firman Utina dengan kecepatannya lari dan dribblingnya, I Putu Gede sebagai pemain jangkar, dan beberapa pemain lainnya. Sementara di barisan penyerang Bendol mempercayakan duet Junior Lima Filho-Rivaldo Costa sebelum berganti ke duet Emaleu Serge-Franco Hita. Dengan trio pemain belakang yang bertumpu pada Aris Budi Prasetyo, Sunar Sulaiman, Andela Atangana/Claudio De Jesus turut menjadikan Arema sebagai klub yang ditakuti ketika itu. Apalagi permainan satu-dua sentuhan yang menawan menjadi kunci bagi permainan Arema yang senantiasa unggul dalam penguasaan bola. Sayangnya, selepas Final Copa Indonesia 2006, Bendol lebih memilih meninggalkan Arema dan bergabung dengan klub lamanya, Persita Tangerang. Entah karena hukum karma setelah meninggalkan Aremania dalam keadaan diidolai, selama 4 tahun Bendol meninggalkan Arema tidak ada satupun piala yang mampu ia raih. Pun demikian ketika ia menjadi entrenador bagi Timnas Merah Putih. Kegagalan demi kegagalan di berbagai event kualifikasi membuatnya terpaksa menahan lapar akan gelar Juara.

2. Robert Rene Alberts
Ia datang ke kandang Singo Edan dengan berbalut keraguan yang ditumpukan kepadanya. Selepas kegagalan Arema di ajang ISL perdananya, tidak ada yang menyangka Arema akan berkilau setelah dilatihnya. Apalagi, menjelang bergulirnya ISL kedua, Arema masih kelimpungan dalam hal merekrut pemain. Di media Agustus-September tahun lalu, Arema kehilangan sekian pemain kuncinya macam Arif Suyono, Erik Setiawan, Fandy Mochtar, Dadang Sudrajat, dan lainnya. Dengan berbekal pemain "sisa" seperti Ahmad Bustomi, Benny Wahyudi, Kurnia Meiga, Roman Chmelo dan beberapa pemain lainnya, Robert membangun kekuatan dengan bertumpukan pada tambahan pemain kunci seperti ex pemain Timnas Kamerun di Piala DUnia 1998, 2002 Pierre Njanka, Pemain "buangan" dari Persisam M. Fakhrudin, Purwaka Yudi dan Juan Revi Auriqto dari Deltras dengan ditambah duo Timnas Singapura M. Ridhuan dan Noh Alam Shah serta Kiper Timnas Indonesia Markus Haris Maulana. 73 poin yang dihasilkan Arema ditambah sederet rekor baru menjadikan skuad Robert Alberts adalah yang terbaik yang pernah dimiliki oleh Arema sepanjang keikutsertaannya di Liga. Robert Alberts juga pintar dalam meramu/menemukan bintang baru seperti yang terjadi pada diri Kurnia Meiga, Irfan Raditya, Benny Wahyudi, Ahmad Bustomi, Juan Revi, Dendi Santoso. Musim kemarin, tidak banyak penggemar bola negeri ini yang mengenal mereka. Namun setelah mendapat sentuhan magis dari Robert Albert, perlahan namun pasti pelita yang padam itu seolah bersinar kembali. Ibaratnya pemian tersebut adalah pelitanya, Robert Alberts pemantiknya dan Aremania adalah udara yang berfungsi menjaga supaya dian itu takkan pernah padam. Bagi Aremania dengan mendengar nama Robert Alberts saja akan muncul kata-kata yang menakjubkan untuk menggambarkan tentangnya.

3. Daniel Rukito
Ia memang bukanlah pelatih dengan lisensi A Pro seperti yang disyaratkan BLi bagi pelatih yang ingin menukangi klub ISL. Namun, meski bukanlah pelatih berlisensi A, ia mampu menyulap beberapa tim untuk meraih masa keemasannya. PersiK pernah diasuhnya untuk menjadi Juara Ligina 2006, PSS Sleman yang pernah ditukanginya pernah ia raih dalam masa keemasannya dan meraih puncak prestasi berupa empat besar Divisi Utama 2004 dan Semifinalis Copa Indonesia 2005. Di Arema, Daniel Rukito pernah menukangi klub berjuluk Singo Edan selama 2 musim. Dengan dukungan minim, Daniel Rukito berhasil mengantarkan Arema ke babak 8 besar selama 2 kali pada kurun waktu tersebut. Ia juga mampu menemukan potensi pemain muda dan lokal menjadi pemain berkelas. Daniel Rukitolah yang mampu memoles pemain seperti Johan Prasetyo, Suswanto, Hermawan, Wawan Widiantoro, ditambah talenta seperti Khusnul Yuli, Setyo Budiarto, Aris Susanto adalah jaminan kesuksesan Daniel Rukito. Kesemuanya didapat dengan dukungan dana yang minim! Daniel Rukito melatih Arema dimana dimasing-masing musim era kepelatihannya hanya dibekali 2 pemain asing(Regulasi Liga ketika itu setiap klub boleh memiliki/memainkan 3-4 pemain asing ditiap pertandingan). Pada Ligina 2001, Daniel Rukito hanya mengandalkan Bamidelle Frank Bob Manuel sebagai legiun asingnya setelah gelandang serang asal Korea Selatan, Han Yong Kuk meninggalkan Malang setelah dikabarkan menderita homesick. Pada Ligina 2002 lebih parah lagi, kompetisi belum selesai Daniel Rukito terpaksa ditinggal 2 pemain asingnya Jaime Rojas dan Marcus Rodriguez dikarenakan permasalahan kontrak yang tidak kunjung jelas. Meski tertatih-tatih di babak 8 besar dan gagal lolos ke babak berikutnya, prestasi yang diterima Daniel Rukito sudah sangat hebat jika dibandingkan dengan "modal" yang ia terima ketika menjelang kompetisi bergulir.

4. M. Basri
Andai M. Basri bersedia menukangi Arema hingga akhir musim Galatama 1992/1993 maka lengkaplah sudah jerih payah yang berbuah prestasi dari yang seharusnya ia terima. Sayangnya ketika itu M. Basri lebih menerima pinangan Alm A. Wenas(Manager NIAC Mitra) untuk menukangi NIAC Mitra yang ketika itu terpuruk di papan bawah. Cerita "dibajaknya" M. Basri langsung menjadi pergunjingan penonton bola seMalang Raya. Tuduhan M. Basri keluar dari Arema demi uang disanggahnya bahwa ia merasa memiliki hutang budi dengan A. Wenas dan NIAC Mitra. Yang pasti selepas tragedi tersebut hubungan suporter Malang dan Surabaya bertambah memanas. Acapkali ketika Mitra Surabaya bertanding ke Malang melawan Arema, Stadion Gajayana Malang penuh dibuatnya. Salah satu laga terpanas yang melibatkan kedua tim adalah di laga terakhir Liga Indonesia I dimana sekitar 20.000 penonton menyaksikan kemenangan Singo Edan atas tamunya yang berganti nama menjadi Mitra Surabaya dengan skor 2-1. Singgih Pitono mencetak dua gol di babak pertama hasil tendangan geledek dari titik penalti dan tendangan bebas yang menjadi spesialisasinya.
Kembali ke cerita M. Basri. Dia memang tidak menutup cerita sempurna yang dibuatnya bersama Arema ketika Arema berada di posisi papan atas Galatama 1992/1993. Sejarah hanya mencatat Gusnul Yakin, arek Malang yang di Galatama 1992 menempati posisi sebagai asisten pelatih PKT Bontang menjadi pelatih Arema yang merasakan gelar juara pertama kalinya bagi Arema. Namun, bagi penggemar Arema ketika itu seolah mencatat M. Basri adalah figur pelatih yang memberikan warna permainan Arema yang lugas dan keras dengan kesuksesan yang lebih dibandingkan yang didapat pelatih-pelatih Arema sebelumnya. Dengan mengandalkan bomber Singgih Pitono(akhirnya menjadi top skorer Galatama di musim tersebut dengan 16 gol), dan Mecky Tata membuat lini depan Arema serasa garang. Belum lagi barisan gelandang seperti Jonathan, Dominggus Nowenik, dan kiper tangguh sekelas Nanang Hidayat. Yah, mereka adalah bagian dari tinta emas yang ditulis dalam buku prestasi Arema.
Selepas menerima pinangan Niac Mitra, M. Basri sempat berpindah ke beberapa klub diantaranya PSM Makassar yang ia antara untuk meraih Runner Up Liga Indonesia II dan Semifinalis Liga Indonesia III. Setelah itu ia kembali memperkuat Arema di Liga Indonesia 2000. Dengan diperkuat oleh Trio Chile yang berisikan Rodrigo Araya, Juan Rubio, Pacho Rubio dan bomber asal Kamerun Charles Essomba Atangana ditambah lagi barisan pemain yang sedang menemukan masa emasnya seperti Charis Yulianto, I Putu Gede, dan Kiper Agung Prasetyo. Babak 8 besar berhasil digapainya dengan status sebagai Runner Up Grup Timur. 2 penampilan awal gemilang Arema ketika mengalahkan Persija Jakarta 2-1 dan seri 1-1 melawan Persikota Tangerang sempat membuat Aremania melambungkan asa kepadanya agar Arema mampu menggapai satu tempat di semifinal. Apa daya di pertandingan terakhir yang tinggal berhadapan dengan Pelita Solo pemain Arema terlihat loyo dan akhirnya kalah 3-0. Padahal ketika itu Pelita Solo sudah ditinggalkan barisan pendukungnya Pasoepati yang sebelumnya ikut memadati Senayan bersama Aremania. Puluhan Pasoepati yang masih hadir di Stadion sudah memberikan dukungannya kepada Arema setelah Pelita Solo dinyatakan gugur di fase 8 besar karena tidak mengoleksi satu poinpun akibat kalah melawan Persija dan Persikota di partai sebelumnya. Harapan yang pupus tersebut masih ditambah lagi issue jual beli pertandingan dan hutang Arema sebesar 300juta rupiah kepada pengusaha asal Lamongan Jeng Sri, Pemilik Cafe Hore-Hore. Sekitar 1500 Aremania melakukan demo ke balaikota selepas kembalinya Aremania dari tour ke Batavia menggunakan kereta api di depan Balaikota Malang. Tidak lama setelah itu, Manager Arema Alm. Gandhi Yogatama mengundurkan diri sebagai manager dan M. Basri berurutan sebagai kiper Arema. Ligina VI adalah kiprah terakhir M. Basri bersama Arema hingga saat ini.

5. Alm. Andi M. Teguh
Anda tentu tidak menyangka kenapa saya lebih memasukkan nama Andi M. Teguh dibandingkan pelatih Gusnul Yakin yang tercatat sejarah mampu mengantarkan Arema sebagai Juara Galatama 1992/1993, Sinyo Alindoe mantan pelatih Timnas yang menjadi peletak dasar permainan Arema atau pelatih sekaliber Miroslav Janu yang mampu mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007/2008. Jawabannya, karena Andi M. Teguh mampu mempertajam ciri khas permainan Arema yang cenderung lugas, keras dan trengginas. Andi Teguh melatih Arema sejak sekitar pertengahan Galatama 1988/1989 hingga Galatama 1990/1992 sebelum digantikan M. Basri. Ia mampu mengkilapkan sinar prestasi beberapa punggawa Arema seperti Mecky Tata untukmeraih gelar Top Skor Galatama 1988/1989 dengan 18 gol ditambah Singgih Pitono pada Galatama 1990/1992 dengan 21 gol. Sementara prestasi bersama tim Arema adalah mampu menempatkan tim berjuluk Singo Edan ini keposisi 4 besar Galatama 1989/1990 dan Galatama 1990/1992. Sebuah prestasi mengkilap bagi Arema ketika itu dimana Arema banyak menempatkan pemain lokal dan nonbintang seperti Singgih Pitono, Maryanto, Mecky Tata, Mahmudiana, Nanang Hidayat, Aji Santoso, ditambah pemain senior Joko Slamet, Panus Korwa.
Bersama Arema, Andi M. Teguh sanggup mengantarkan tim ini menjadi Runner Up Piala Galatama 1992 setelah pada pertandingan final 21 Juli 1992 dikalahkan Semen Padang dengan skor 1-0. Kiprahnya bersama Arema juga terdapat pada Piala Utama 1990. Sayangnya, langkah Arema ketika itu terhenti di babak Group Stage yang diikuti 8 tim dan terbagi dalam dua grup. Posisi Arema menjadi juru kunci klasemen yang dimainkan di Stadion Siliwangi, Bandung.

Nominasi lain :
Gusnul Yakin memang meraih Juara Galatama 1992/1993. Tanpa bermaksud mengecilkan arti dari jasa besar Gusnul Yakin kepada Arema, beberapa kegagalan di Ligina II, dan ISL 2008/2009 menjadikan sinar kejayaannya bersama Arema seolah tenggelam. Namun, seperti yang saya katakan diatas Gusnul Yakin adalah salah satu pelatih yang berjasa besar kepada Arema. Bahkan, saking berjasanya ia pernah rela tak dibayar ketika melatih Arema di salah satu musim kompetisi dimana Arema mengalami problem klasik, kesulitan dana. Di luar nama Gusnul Yakin terdapat Miroslav Janu yang berkutat pada formasi 4-4-2 dengan dukungan pasokan lini tengah yang garang dan digawangi 4 kuartet Arif Suyono-Tarikh El Janaby-Ponaryo Astaman-Ellie Aiboy. Bersama duet maut Pato Morales dan Emile Bertrand Mbamba membuat Arema mampu menembus babak 8 besar Liga Indonesia 2007/2008 di tengah persaingan ketat 18 peserta kompetisi di Grup Timur. Sayang kiprahnya bersama Arema terhenti karena tidak sepakat untuk perpanjangan kontrak bersama Arema menjelang bergulirnya babak 8 Besar di Kediri sehingga kita tidak pernah tahu bagaimana kiprah Miroslav Janu dan upayanya untuk mengantarkan Arema meraih gelar Liga Indonesia pertamanya. Selain nama diatas terdapat juga nama tenar seperti Sinyo Alindoe. Ia adalah pelatih Timnas dan pernah melatih saudara tua Arema, Persema Malang. Sinyo adalah peletak dasar karakter permainan keras Arema. Ia juga menemukan bibit terpendam seperti Aji Santoso. Dengan dibantu beberapa pemain tenar eks Pelita Jaya yang habis terkena skorsing seperti Bambang Nurdiansyah, Donny Latuperissa(Kiper) menorehkan prestasi penting di musim pertama Arema berkiprah di persepakbolaan Indonesia. Arema mampu meraih peringkat 6 pada Galatama 1987/1988, dan bersaing dengan Niac Mitra, Pelita Jaya, Arseto Solo dan Krama Yudha Tiga Berlian di ajang Galatama 1987/1988. Sebenarnya ada satu nama lagi yang pernah menorehkan prestasi bagi Arema, yaitu Suharno. Pelatih kawakan ini pernah mengantarkan Arema menembus babak 12 Besar di Ujungpandang(kini Makassar). Sayang, kiprahnya bersama Arema tidak mampu menembus babak 8 besar setelah Arema hanya menempati posisi ketiga Grup C Babak 12 besar di Ujungpandang. Pada waktu itu, Suharno banyak dibantu trio Chile periode I yang digawangi Nelson Leon Sanchez, J.C. Moreno dan Juan Rubio. Ditambah pemain tenar seperti Joko Susilo, Nanang Supriyadi, Agus Yuwono, Yanuar Hermansyah, dan Bek masa depan Arema Charis Yulianto. Dimasa kepelatihan Suharno inilah Charis Yulianto memulai kiprahnya bersama Arema.

Refleksi 23 Tahun Arema(1)

Para Bomber Legendaris Arema

1. Singgih Pitono
Legend of the Legends, julukan ini pantas disematkan kepada Singgih Pitono. Ia ditemukan manajemen Arema di akhir dasawarsa 80an setelah blusukan ke Tulungagung untukmencari bakat terpendam guna ditampilkan di ajang Galatama. Singgih Pitono 2 kali menjadi top skorer Galatama yaitu pada Galatama XI tahun 1991/1992 dengan torehan 21 gol, Galatama XII tahun 1992/1993 dengan 16 gol. Selain itu ia mampu menempatkan diri sebagai top skorer tim pada Liga Indonesia I di tahun 1994/1995 dengan 14 gol. Dengan perolehan tersebut maka layaklah Singgih Pitono dianugerahi "award" sebagai penyerang/striker terbaik yang dimiliki oleh Arema. Singgih Pitono hadir di bumi Arema dan memperkuat tim yang diidolai hampir penggemar sepakbola di seantero Malang selama lebih dari 7 tahun. Kiprah terakhir Singgih Pitono bersama Arema adalah pada Liga Indonesia II 1995/1996. Seolah menandai akhir era emas Singgih Pitono di pentas sepakbola Indonesia, ketika itu ia hanya mampu mencetak 4 gol di kompetisi LI II sekaligus menjadikan tahun itu sebagai tahun kelabu bagi barisan penyerang Arema. Total, hanya 19 gol yang mampu dicetak pemain Arema dalam 30 pertandingan. Koefisien gol sebesar 0,63 menjadikan kompetisi tersebut sebagai masa paling "mandul gol" bagi Arema. Bahkan, ketika itu Singgih Pitono sempat menjadi cemohan warga Malang karena sudah tidak mampu lagi memamerkan skill tendangan geledeknya ketika tendangan bebas. Salah satu yang patut disesali adalah momen tendangan bebas yang diperoleh Singgih Pitono ketika melawan ASGS di Stadion Gajayana Malang. Singgih Pitono beberapa kali memperoleh peluang tendangan bebas yang berjarak hanya 20-25 meter dari garis gawang ASGS. Namun, dari sekian peluang yang diperolehnya tidak ada yang mempu melewati pagar betis pemain lawan. Sehingga beberapa pelaung emas yang biasa menjadi spesialisasinya sirna menjadi gol. Meskipun begitu, dengan segala prestasinya tersebut Singgih Pitono patut masuk sebagai salah satu legenda terbaik yang pernah dimiliki Arema.

2. Mecky Tata
Bila Singgih Pitono adalah Michael Jordan, maka Mecky Tata adalah Scottie Pippennya. Mungkin terasa berlebihan, tapi cukuplah untuk menggambarkan duet maut penyerang yang dimiliki Arema Malang. Mecky Tata adalah pemain asal Papua yang mencatatkan prestasi mentereng bersama Arema. Ketika berduet dengan Singgih Pitono ia pernah mengantarkan Arema menjadi Juara Galatama 1992/1993 dan Runner Up Piala Galatama 1992. Sementara prestasi individunya ketika menjadi pemain Arema ialah berhasil meraih Gelar Top Skorer Galatama IX tahun 1988/1989 dengan 18 gol bersama dengan Dadang Kurnia, penyerang dari klub Bandung Raya. Ketiak di Arema, Mecky Tata beberapa kali menjadi Runner up top skorer tim dibawah Singgih Pitono, salah satunya pada Galatama IX tahun 1990-1992 dengan torehan 8 gol. Kiprah Mecky Tata bersama Arema berakhir pada Ligina V di tahun 1999.

3. Pacho Rubio
Pacho adalah legenda Arema dibandingkan dengan sederetan legiun asing Arema yang berasal dari Chile diantaranya Rodrigo Araya, Juan Rubio, Jaime Rojas, Marcus Rodriguez, Nelson Leon Sanchez, Christian Cespedes dan J.C. Moreno. Kiprahnya bersama Arema memang tergolong singkat. Total ia mampu mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000(termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan). Kiprahnya bersama Arema di babak 8 besar tersebut menjadi momen emasnya bersama Arema. Hebatnya, semua golnya dihasilkan dari tandukan kepala dan lewat sebuah prosesi cantik hasil assist dari gelandang-gelandang Arema yang dimotori oleh Rodrigo Araya. Sayang, skorsing seumur hidup PSSI membuyarkan harapan Aremania untuk melihat kiprah Pacho lebih lama di Malang. Meskipun begitu, Pacho adalah simbol bagi Aremania. Simbol yang melambangkan perjuangan, kerja keras dan harga diri Aremania.

4. Ahmad Junaidi
Arek Probolinggo ini datang ke Arema dengan segala beban dari harapan Aremania yang terpatri dipundaknya. Meski ia pernah sukses bersama PKT Bontang ketika menjadi runner up Liga Indonesia VI, tentu tidak terlalu mengenakkan hadir untuk pertama kali di bumi Arema dibawah bayang-bayang kesuksesan Pacho Rubio di musim sebelumnya. Apalagi di awal-awal Liga Indonesia VII, Ahmad Junaidi kehilangan partnernya dilini depan, Hadi Surento setelah bertanding melawan PSS Sleman. Namun, Ahmad Junaidi mampu menjawab semua keraguan yang diletakkan kepadanya, meski Arema di Putaran I mengandalkan pemain lokal, Ahmad Junaidi mampu menjadi top skorer tim dengan torehan 15 gol ketika itu. Bahkan ketika manajemen Arema mendatangkan bomber sekelas Bamidelle Frank Bob Manuel di Putaran II, ketajaman yang ditunjukkan Ahmad Junaidi juga tidak berkurang. Bersama Bobby(panggilan akrab Bamidelle Frank Bob Manuel) Ahmad Junaidi bersama-sama membukukan masing-masing 7 gol untuk Putaran II tersebut. Salah satu momen terbaik Ahmad Junaidi bersama Arema dan Aremania adalah ketika menjadi pahlawan kemenangan Arema atas musuh bebuyutannya dengan sebiji gol yang dicetaknya di menit 75 pada laga yang disaksikan sekitar 20.000 Aremania di Stadion Gajayana Malang. Laga yang digelar pada tanggal 8 Juli 2001 tersebut membawa kemenangan Arema dengan skor 1-0. Sayangnya, diakhir musim kompetisi Ahmad Junaidi berbuat blunder, from hero to zero adalah istilah yang tepat dibuatnya. Ahmad Junaidi yang dikontrak 2 tahun oleh Arema berbuat ulah dengan mengingkari kesepakatan kontrak kerja 2 tahun yang telah dibuat sebelumnya. Dalih meminta tambahan gaji di musim kedua dijawab Arema dengan tidaknya kesepakatan yang tertulis di lembar kontrak yang pernah ditandatangani sebelumnya. Akhirnya, transfer sebesar 125-175juta rupiah dari kubu Persebaya menjadi jawabannya. Seolah menjadi karma, setelah meninggalkan Arema Ahmad Junaidi seolah kehilangan tajinya. Di Persebaya karirnya memudar, ia tidak cocok dengan skema permainan pelatih Persebaya ketika itu, Rusdy Bahalwan. Selepas dari Arema, Ahmad Junaidi sudah tidak pernah mencetak gol lebih dari 10 gol dalam semusim di strata teratas Liga Indonesia. Selepas dari Arema dan Persebaya Ahmad Junaidi berpindah-pindah klub diantaranya pernah memperkuat Persema Malang di Ligina 2004 dan Persipro Probolinggo.

5. Johan Prasetyo
Johan Prasetyo didatangkan dari Diklat Salatiga bersama Suswanto. Di tahun pertama dan terakhirnya membela Arema, Johan mampu menyingkirkan sederet pemain senior seperti Joko Susilo, Marcus Rodriguez untuk menjadi ujung tombak bagi pola 3-6-1 arahan Daniel Rukito. Total 14 gol dicetak Johan Prasetyo di musim pertamanya. Dengan usia yang masih muda ia mampu menjadi pesaing sederet bomber papan atas seperti Bako Sadissou, Bambang Pamungkas, Yao Eloi, Jainal Ikhwan, dll. Di musim pertamanya tersebut Johan Prasetyo mampu memukau Aremania. Bahkan sekelompok Aremania pernah membentangkan sebuah replika kaus dengan ukuran lebih dari 5 meter bertuliskan Johan Prasetyo lengkap dengan nomor punggung 11 ketika laga kandang terakhir Arema melawan Persikota Tangerang. Sayang di babak 8 besar Johan Prasetyo tidak mampu menyumbang sebiji golpun untuk Arema. Puncaknya, ia bersama Suswanto dan sederet mantan punggawa Arema di Ligina VIII dicap sebagai pengkhianat dengan ikut bedol desa ke Kediri. Johan Prasetyo bersama Suswanto sebenarnya dikontrak 3 tahun bersama Arema ketika itu. Di akhir musim tersebut Aremania harus merelakan keduanya untuk pergi dengan nilai transfer mencapai 100juta rupiah. Sama seperti kiprah Ahmad Junaidi ketika "mengkhianati" Aremania, Johan Prasetyo juga seakan kehilangan tajinya begitu keluar dari Arema. Meski ia pernah merasakan gelar juara Liga Indonesia bersama Persik Kediri, namun deretan cedera dan inkonsistensi menyebabkan ia kehilangan pamornya. Selepas meninggalkan Arema, ia tidak pernah lagi mencetak gol dengan jumlah 10 gol didalam satu musim kompetisi.

6. Charles I.S. Horiq
Untuk 13 Gol yang dicetak dalam setengah musim kompetisi adalah jumlah yang hebat bagi pemain yang baru pertama kalinya menancapkan kaki di ajang liga profesional. Charles Horiq sebelum bergabung dengan Arema adalah pemain di Mabes TNI AU. Bahkan, awal kalinya ia bergabung di Arema, tidak ada seorangpun publik yang menggantungkan asa kepadanya. Harap maklum, posisi Arema ketika itu berada di jurang degradasi. Namun, bersama rekrutan baru Arema macam Simamo Armand Basile, Christian Cespedes, Stenly Mamuaya, Rodrigo Araya dan Anshar Abdullah ia sukses menjadi tumpuan pelatih Meneer Henk Wullems. Sayang, terlambatnya start Arema di Liga Indonesia 2003 menjadikan kerja keras Charles Horiq seakan sia-sia. Arema tetap terpuruk di papan bawah dan terdegradasi ke Divisi I di musim berikutnya. Namun, seolah menjadi impas ketika Charles Horiq berada di Arema musim berikutnya, meski hanya menjadi supersub dan mencetak beberapa gol, Charles Horiq bersama pemain Arema lainnya sukses menjuarai Divisi I dan lolos ke Divisi Utama Ligina(Liga Indonesia) 2005. Selepas dari Arema, Charles Horiq sempat berpindah klub yaitu Persela Lamongan dan Persija Jakarta.

7. Emaleu Serge Ngomgue
Sungguh beruntung Arema memiliki bomber sekelas Emaleu Serge. Kehadirannya mampu mnejadikan Arema sebagai salah satu tim tersubur di Liga Indonesia 2005-2006. Dari 3 musim kehadiran Serge di bumi Arema(tidak termasuk musim 2007 dimana Emaleu Serge mengalami cedera patah kaki selepas pertandingan di Jusuf Cup akibat tackle brutal pemain belakang Persipura, Bhio Pauline). Dari dua musim pertama Emaleu Serge membela Arema, total ia membubukan 36 gol. Di musim 2005 ia mencetak 11 gol di ajang Ligina dan 7 gol di ajang Copa Indonesia dan turut menyukseskan langkah Arema sebagai Juara Copa Indonesia 2005 serta runner up top skor Copa Indonesia dibawah Javier Roca. Tahun berikutnya, berkah seolah memayungi Emaleu Serge bersama Arema. Meski hanya mencetak 9 gol diajang Ligina dan hanya mampu membawa Arema sampai 8 besar Ligina 2006, namun Emaleu Serge mampu membukukan 9 gol di ajang Copa Indonesia 2006. Emaleu Serge menjadi Top Skorer Copa Indonesia 2006 dengan 9 gol dan mampu membawa Arema menjadi Kampiun Copa Indonesia untuk kedua kalinya. Emaleu Serge tampil di kedua Final Copa Indonesia 2005 dan 2006. Meski tak mencetak gol, duetnya bersama Franco Hita kerap mengobrak-abrik barisan pertahanan lawan. Bersama Mecky Tata dan Singgih Pitono, ia adalah satu diantara 3 pemain penyerang Arema yang pernah mendapatkan predikat gelar top skorer. Nyaris, kiprahnya di Liga Indonesia tidak pernah menyayati hati Aremania. Emaleu Serge sampai sekarang masih berniat bergabung dengan Arema, sekalipun ia tahu kuota pemain asing nonAsia di Arema sudah penuh seiring hadirnya Roman Chmelo, Esteban Guillen dan Pierre Njanka. Selepas bergabung dengan Arema, Emaleu Serge sempat bergabung bersama Persija Jakarta dan Pro Duta Sleman.

8. Roman Chmelo
Roman adalah simbol kedigdayaan bari barisan penyerang Arema masa kini. Pergerakannya yang luwes dan fisiknya yang mumpuni menjadikan ia sebagai salah satu dari sekian pemain Arema yang stabil penampilannya sepanjang mengikuti Indonesia Super League 2009/2010. Roman Chmelo datang di putaran II ISL 2008/2009 untuk menggantikan posisi Leo Chitescu. Tidak butuh waktu lama Roman untuk menjadi idola Aremania. Meski ia hampir tersingkir di awal ISL 2009/2010 karena tidak sesuai dengan kebutuhan Robert Albert, namun perlahan pasti akhirnya ia mampu menjawab segala keraguan yang ditimpakan kepadanya. Total 15 gol di ajang ISL 2009/2010 ia buat untuk mengantarkan Singo Edan meraih gelar ISL untuk pertama kalinya. Sementara, di ajang Piala Indonesia, meski hanya 1 gol dan beberapa kontribusi berupa assist sanggup mengantarkan Arema menjadi Runner Up Piala Indonesia sebelum dikalahkan Sriwijaya FC pada final yang berlangsung di Solo beberapa waktu lalu. Roman Chmelo saat ini mnejadi idola Aremania bersanding dengan beberapa pemain kunci seperti Noh Alam Shah, M. Ridhuan, dan sederet pemain lainnya. Loyalitasnya bersama Singo Edan sudah terbuktikan dengan adanya deal lisan antara dia dengan management Arema untuk memperkuat tim berjuluk Singo Edan pada musim kompetisi 2010/2011. Andai ia jadi membubuhkan tanda tangan kontrak untuk Arema di musim depan, patut kiranya kita tunggu kiprah Roman Chmelo bersama Singo Edan di musim depan.

9. Noh Alam Shah
Along, panggilan akrab dari Noh Alam Shah adalah The New Pacho Rubio. Pemain bengal ini memang ibarat Pacho Rubio yang diidolai oleh jutaan Aremania/ta. Nyaris, tidak terhitung tingkah laku "unik" ALong semasa memperkuat Arema. Dimulai dari banyaknya kartu yang diterima, hingga insiden yang melibatkan tendangan Kungfu Along di Final Piala Indonesia antara Arema melawan Sriwijaya FC. Meskipun begitu, Along adalah aset yang berharga di Arema. Total 14 gol di pentas ISL 2009/2010 ditambah 1 gol di ajang Piala Indonesia menjadikannya sebagai salah satu bomber tersubur yang dimiliki Arema. Meski ia tidak berhasil mencapai target untuk mencetak 20 gol di ajang ISL musim ini, namun perolehan 14 gol tersebut sudah cukup untuk memberikan kontribusi berarti bagi perjalanan Arema musim ini. Bahkan tidak jarang gol Along menentukan langkah Arema meraih kemenangan di setiap pertandingannya. Salah satunya adalah ketika ia berhasil mencetak gol penentu atas Persik pada laga yang berlangsung di Stadion Surajaya Lamongan. Gol tunggal itu mampu mengobati luka Aremania yang bertahun-tahun merindukan kemenangan atas Persik. Lebih dari 11000 Aremania bersuka cita menyambut gol tunggal tersebut. Di Timnas Singapura, ALong mencetak 34 gol dari 75 kesempatan memperkuat The Lions

10. Emile Bertrand Mbamba
Mbamba, demikian panggilan akrabnya adalah satu-satunya striker Arema yang pernah bermain di ajang UEFA Champions League. Ketika itu ia memperkuat Maccabi Tel Aviv dan mencetak gol ke gawang Juventus di ajang Penyisihan Grup C. Uniknya, gol yang dibuat oleh Mbamba memupuskan harapan Juventus dan Juventini untuk mencetak clean sheat dan kemenangan 100% di ajang penyisihan Grup tersebut. Walhasil, setelah pertandingan yang berakhir seri tersebut Juventus harus "merelakan" lolosnya ke Babak 16 Besar sedikit ternoda dengan hilangnya kans meraih 3 poin atas lawan yang berada di posisi akhir Grup C. Di Arema, Mbamba total mencetak 17 gol dari 23 kali pertandingan selama memperkuat Arema di musim Liga Indonesia 2007-2008 dan ISL 2008. Kontribusinya sangat besar untuk mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007-2008. Di musim pertamanya bersama Arema ia baru memperkuat tim ketika sudah memasuki putaran kedua. Selama setengah musim ditambah kiprah Mbamba di 8 Babak 8 Besar, ia suskes membukukan 11 gol. Tak jarang gol yang dicetak oleh Mbamba adalah gol cantik yang berkelas. Seperti misalnya salah gol yang dicetak lewat tendangan voli ketika Arema mengalahkan Persiba Balikpapan 3-0. Gol yang dicetak dihadapan 50.000 penonton tersebut sangat berkelas dan dicetak dari luar kotak penalti. Sayang, ketika menginjak pertengahan Putaran I ISL 2008/2009 ia harus menerima sanksi dilarang mengikuti sepakbola Indonesia selama 5 tahun oleh Komdis PSSI. Sanksi yang tidak sepadan hanya karena tingkah protes Mbamba yang dinilai berlebihan tersebut semakin merepresentasikan bobroknya Komisi Wasit PSSI ketika itu. Ingat, gol ketiga Mbamba yang dianulir ketika Arema berhadapan dengan Persiwa di Babak 8 Besar LI 2007/2008 yang berbuah kerusuhan penonton. Gol itu dicetak melalui sundulan dan bersih karena melewati proses coming from behind. Belum lagi, beberapa kebobrokan keputusan wasit yang seringkali merugikan Arema ketika itu seakan menjadi pelengkap yang harus diderita Arema.

Nominasi lain :
Ada banyak striker jempolan yang dimiliki oleh Arema. Beberapa nama lain yang bisa masuk pertimbangan adalah Junior Lima Filho dan Rivaldo Costa yang bahu membahu mengantarkan Arema menjadi Juara Liga Pertamina 2004. Selain itu ada nama lain yang tidak dapat dikesampingkan seperti Pato Morales yang sukses menyumbang 10 gol Arema di Liga Indonesia 2007-2008, Bamidelle Frank Bob Manuel, Franco Hita, dll. Untuk penyerang lokal, nama-nama seperti Joko Susilo dan Marthen Tao patut dimasukkan. Joko Susilo bahkan hampir 10 musim kompetisi bergabung bersama Arema, meski semapt memperkuat tim Persija Jakarta. Bahkan loyalitasnya di Arema sangat terbukti. Gethuk, panggilan akrab Joko Susilo pernah menolak kontrak senilai 40juta rupiah di pertengahan 90an untuk menerima pinangan 1juta rupiah bersama Arema Malang. Kini Joko Susilo bergabung bersama Arema sebagai asisten pelatih.