Dahulu kala, lapangan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan stadion Gajayana Malang dan lapangan luar sebelah selatan senilai puluhan ribu gulden oleh pemerintahan Hindia Belanda.
Lapangan ini kerap dipakai oleh berbagai kegiatan.
Seringkali puluhan tahun silam digunakan masyarakat Kota Malang untuk bermain bola, turnamen 'tarkam' antar mahasiswa pendatang, hingga event diluar sepakbola seperti pertunjukan lumba-lumba di tahun 1993, Pameran Pembangunan/Expo, dibeton untuk kegiatan Pasar Wisata Sabtu Minggu(Tugu) di pertengahan tahun 2000an hingga kegiatan lainnya.
Selepas direhab besar-besaran oleh MOG, sempat menimbulkan harapan baru bagi warga Malang untuk memiliki atau memakai lapangan berstandar nasional yang dapat digunakan untuk event lokal bergengsi atau sekedar pemakaian berupa latihan oleh team profesional di Malang.
Entah siapa yang bertanggungjawab akan hal ini. Sama seperti hilangnya beberapa blok lampu di scoring board stadion Gajayana itu sendiri.
Disinyalir buruknya kondisi lapangan diakibatkan oleh minimnya pengawasan pemakaian lapangan disamping intensitas penggunaan lapangan tersebut.
Cak Mat Banteng, pria yang sehari-harinya bekerja untuk AremaFC ini menuturkan kepada saya ketika bertemu di Stadion Gajayana kala mendampingi Arema latihan. Lapangan ini memang awalnya 'eksklusif', namun seiring waktu intensitas penggunaannya menjadi tidak terkendali. Setiap sore ataupun pagi seringkali dipakai oleh banyak kalangan untuk bermain bola.
Menurut Cak Mat Banteng, selazimnya lapangan sepakbola yang berada di dalam stadion Gajayana tersebut intensitas penggunaan lapangan harus diperhatikan dan memberikan kesempatan agar rumput di dalam lapangan tersebut dapat berkembang.
Sepertinya Pemkot Malang lewat Dispora maupun UPTD tidak dapat lepas tangan akan permasalahan yang mendera lapangan tersebut. Dengan kondisi lapangan yang baru direhab dan 'berumur' 3 tahun tersebut tidak terbayang 7 ataupun 17tahun lagi ketika kondisi tersebut dibiarkan.
Jangan-jangan kondisinya akan seperti sepuluh tahun yang lalu dimana dengan perhatian dan perawatan yang minim kondisi lapangan tidak hanya bergelombang, namun dipenuhi batu-batu, kerikil dan patok-patok kayu yang digunakan warga untuk membuat gawang sepakbola. Kondisi ini sangat membahayakan bagi pemakai lapangan jika tidak diperhatikan lebih lanjut.
0 comments:
Post a Comment