Sunday, April 07, 2013

Pertumbuhan penonton untuk klub peserta ISL 2009-2012


Berdasarkan report dari beberapa sumber, jumlah penonton Liga Super Indonesia(ISL) masih menduduki posisi 5 besar dari belasan kompetisi sepakbola dibawah AFC(Asian Football Confederation).

Untuk musim kompetisi 2011/2012 lalu, jumlah penonton ISL sebesar 3.129.663 orang atau 10.228 orang untuk tiap pertandingannya. Jumlah ini adalah yang terbesar di kawasan ASEAN, diatas Thai Premier League(TPL), Vietnam League(V. League), maupun Liga Super Malaysia.

Meski menjadi yang tertinggi di ASEAN, rata-rata penonton di pertandingan ISL dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan. Musim lalu(2011/2012) rata-rata penonton ISL mengalami penurunan 7,9% dibandingkan musim sebelumnya(2010/2011) serta mengalami penurunan sebesar 1,9% dibandingkan musim 2009/2010.

Tabel penonton klub peserta Liga Super Indonesia 2009-2012

Muncul beberapa penyebab jumlah penonton ISL mengalami penurunan dalam dua musim terakhir. Menghilangnya beberapa klub yang memiliki pendukung fanatik seperti Persebaya, PSM Makassar dan Persik membuat rata-rata penonton ISL sedikit tereduksi.

Beruntung 'hilangnya' beberapa klub tersebut dapat digantikan oleh beberapa klub yang promosi dan memiliki jumlah pendukung besar seperti Gresik United dan PSMS Medan. Meski demikian faktor terbesar yang andil dalam berkurangnya penonton ISL dua musim terakhir justru bersumber dari klub pesertanya sendiri.

Untuk musim 2011/12 sebanyak 8 dari 12 peserta kompetisi yang mengikuti ISL secara beruntun dalam dua musim terakhir mengalami penurunan jumlah penonton. Prosentase penurunan penonton tertinggi dialami PSPS sebesar 50,1% disusul Persiwa sebesar 38,6%(selengkapnya lihat tabel).

Selain PSPS dan Persiwa, sebanyak 3 klub ISL mengalami penurunan jumlah penonton di atas 20% seperti Persipura dan Persija(22,5%) serta Arema Indonesia(21,5%). Ditilik secara kuantitas penurunan perolehan penonton yang dialami oleh Persipura, Persija dan Arema cukup besar, hal ini bisa dilihat dari jumlah penonton di tiga klub tersebut yang selalu berada di posisi 6 besar dalam 3 tahun terakhir dengan jumlah rata-rata penonton diatas 15ribu orang tiap pertandingannya.

Khusus untuk PSPS, penurunan jumlah penonton dapat menjadi catatan tersendiri. Klub berjuluk Asykar Bertuah ini adalah satu-satunya klub peserta ISL yang mengalami penurunan jumlah penonton diatas 30% secara beruntun dalam dua musim terakhir.

Sejak berpindah homebase ke Stadion Kuansing(2010/11) dan Stadion Tuanku Tambusai Bangkinang, PSPS tak pernah lagi berhasil mendatangkan penonton dalam jumlah masif seperti halnya ketika masih memakai Stadion Kaharuddin Nasution sebagai kandangnya.

Prestasi PSPS yang mengalami penurunan dalam dua musim terakhir disinyalir menjadi salah satu penyebab menurunnya animo penonton dalam dua tahun terakhir. Bilamana tak segera diatasi, dikhawatirkan langkah PSPS untuk tetap bertahan di tengah ketatnya persaingan kompetisi musim ini akan mengalami hambatan berarti.

Namun manakala disimak dalam hal kuantitas, penurunan jumlah penonton yang terbesar justru dialami Arema. Dalam dua musim terakhir, rata-rata penonton klub berjuluk Singo Edan ini mengalami penurunan sekitar 4500-7500 orang di setiap pertandingan. Posisi berikutnya diikuti oleh PSPS dengan 5300-5700 orang per pertandingan.

Jika 8 klub mengalami penurunan jumlah penonton, kondisi berbeda dialami 4 klub ISL musim lalu. Sriwijaya FC mencatat pertumbuhan jumlah penonton terbaik dibandingkan kontestan ISL lainnya. Musim lalu pertumbuhan penonton di Gelora Jakabaring mencapai 105,4%. Pertumbuhan ini dicapai berkat naiknya rataan penonton pertandingan kandang Sriwijaya FC dari 10.370 di musim 2010/11 menjadi 21.299 orang.

Posisi kedua pertumbuhan penonton dialami oleh Persela Lamongan sebesar 28,4%(rata-rata penonton di musim 2010/11 sebesar 8.220 menjadi 10.552 orang di musim 2011/12), disusul Deltras Sidoarjo di peringkat ketiga dengan 24%(rata-rata dari 6.783 menjadi 8.414 orang). Terakhir, Persib menguntit di posisi keempat dengan pertumbuhan penonton sebesar 1,9%(dari 16.948 menjadi 17.269 orang)

 
Grafik pertumbuhan penonton klub sepakbola peserta ISL 2009-2012

Faktor prestasi turut mendongkrak animo penonton Sriwijaya FC dan Persela musim lalu. Kiprah Sriwijaya FC berakhir musim lalu dengan bertengger di puncak klasemen dengan 79 poin dan berhasil menggondol mahkota juara ke bumi Sriwijaya membuat penonton berduyun-duyun datang ke Gelora Jakabaring. Hal ini turut dirasakan Sriwijaya FC ketika berhasil merengkuh double winner(juara Divisi Utama dan Copa Indonesia) 2007/08 lalu.

Kala itu Gelora Jakabring seringkali dipadati pendukungnya. Bahkan partai melawan Persib Bandung dalam babak penyisihan dipadati sekitar 40ribu penonton yang sudah bersliweran di stadion beberapa jam sebelum kick off.

Selain Sriwijaya FC, Persela juga mencatatkan hasil bagus dalam hal prestasi. Musim lalu klub berjuluk Laskar Joko Tingkir sukses nangkring di posisi empat ISL 2011/12. Hasil ini adalah prestasi terbaik Persela selama mengikuti ISL sejak tahun 2008 lalu. Naiknya posisi Persela di klasemen berbanding lurus dengan realita penonton di lapangan. Hampir di tiap pertandingan, Stadion Surajaya yang berkapasitas 15.000 orang ini dijubeli LA Mania.

Barangkali sedikit perkecualian lain patut dialamatkan kepada Deltras. Tim berjuluk The Lobster ini mampu mencatatkan kenaikan jumlah penonton sebesar 24%. Tertinggi ketiga diantara belasan klub ISL musim lalu. Meski mengalami degradasi ke Divisi Utama PT LI di akhir musim, namun di awal musim kompetisi posisi Deltras relatif stabil di enam besar klasemen dan membuat animo penonton Deltras cukup tinggi kala itu.

Musim ini(ISL 2012-13) diprediksi perolehan penonton yang didapat oleh klub-klub ISL akan berjalan 'dinamis'. Beberapa klub akan mengalami kenaikan jumlah penonton jika berhasil merebut perhatian pendukungnya dengan faktor pemikat seperti prestasi tim, rekrutmen pemain bintang, harga tiket, maupun fasilitas yang memanjakan penonton untuk hadir di stadion.

Hingga matchday ke 13 ISL musim ini, beberapa klub berhasil menaikkan performanya dalam menggaet animo penonton. Arema yang mengalami penurunan jumlah penonton dalam dua tahun terakhir tampaknya akan tune up memimpin perolehan jumlah suporter untuk ISL 2012/13.

Sampai saat ini(6/4) 154.025 penonton menghadiri enam pertandingan kandang Arema(rata-rata 25.671/pertandingan). Jika kenaikan jumlah penonton yang mencapai 62% ini berhasil dipertahankan performanya hingga akhir musim tentu menjadi catatan bagus untuk manajemen klub yang berdiri 11 Agustus 1987 lalu.

Dengan harga tiket terendah sebesar 25ribu rupiah, jika rata-rata 25671 orang memadati setiap sisa pertandingan kandang musim ini(11 pertandingan), Panpel Arema dapat memperoleh dana segar sekitar 7 miliar rupiah(minimal) dari tiket penonton.

Selain Arema, Panpel Persib sementara ini mencatatkan perolehan bagus berkat kenaikan jumlah penonton kandang. Sebanyak 146.492 bobotoh memadati 7 laga kandang Persib musim ini. Dengan rata-rata penonton sebanyak 20.927 penonton/pertandingan, perolehan ini menempatkan Persib di posisi kedua sebagai klub dengan prosentase pertumbuhan jumlah penonton tertinggi musim ini sebesar 21,1%.

Selain berlomba-lomba dalam menumbuhkan animo penonton, ada beberapa faktor lain yang patut diwaspadai dapat menurunkan animo penonton klub di sisa musim ini. Faktor yang krusial adalah prestasi tim. Faktor ini adalah salah satu pemikat utama penonton untuk terus dan tetap hadir menonton klubnya bertanding di stadion.

Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah jadwal pertandingan dan venue. Kecenderungan dalam dua tahun terakhir, animo penonton sangat baik jika pertandingan digelar pada weekend(Sabtu-Minggu) dibandingkan laga weekday(Senin-Jumat).

Masalah venue turut menentukan sukses dan tidaknya klub dalam mendatangkan animo suporter dalam jumlah besar. Beberapa kali pertandingan ISL musim lalu mengalami 'pengusiran' akibat tak mendapat izin keamanan dari otoritas setempat atau kondisi infrastruktur stadion tidak sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh pengelola kompetisi.

Tanpa izin tersebut, klub tak dapat menggelar laga kandang dan berakibat fatal. Pilihan logis bagi klub tersebut adalah menggelar laga usiran di luar kota atau tetap digelar di kandang tanpa dukungan suporter fanatiknya.

Imbasnya kerugian yang dialami panpel tak sedikit. Baik laga usiran maupun laga penonton seringkali tak memberikan keuntungan ekonomis yang setara dibandingkan ketika menggelar laga kandang secara normal. Bagaimanapun menggelar pertandingan di kandang sendiri lebih mendatangkan keuntungan bagi klub. Sesuatu hal yang sayang untuk dilewatkan bagi klub-klub yang menggantungkan dananya dari sektor penjualan tiket pertandingan.

==========================================

Faktor-faktor yang turut mempengaruhi besar atau sedikitnya animo penonton dalam pertandingan sepakbola :
1. Prestasi tim
2. Jadwal dan waktu pertandingan
3. Venue dan lokasi pertandingan
4. Cuaca
5. Kualitas calon lawan
6. Rivalitas antar tim
7. Materi pemain
8. Harga tiket, dan lain sebagainya

No comments: